Mengenang Jejak Ibnu Khaldun di Tunisia

August 23, 2007 at 5:42 pm Leave a comment

DI salah satu rumah pada lorong kecil di kawasan Souq (kawasan pasar lama), ibu kota Tunis, seorang pemikir besar Muslim pernah dilahirkan. Ia adalah Ibnu Khaldun, pengarang legendaris yang pernah menulis buku berjudul Al Muqaddimah. Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1332.
RAKYAT dan Pemerintah Tunisia bangga dengan kebesaran nama Ibnu Khaldun. Sekitar 500 meter dari Souq, terdapat patung besar Ibnu Khaldun. Bila menuju Souq dari arah Jalan Habib Buorghiba di pusat Tunis, akan terlihat patung Ibnu Khaldun.
Jalan menuju tempat kelahiran Ibnu Khaldun harus melalui lorong-lorong kecil di Souq. Di kiri-kanan sepanjang lorong itu terdapat toko-toko atau kios penjual barang tradisional Tunisia.
Tampak terlihat banyak turis yang lalu-lalang di kawasan tersebut. Para turis atau peziarah di Kota Tunis tentu saja tidak dapat melewatkan kawasan Souq. Di Souq, para turis bisa membeli souvenir dan melihat rumah-rumah asli Arab Maghrib.
Para pemilik toko dan kios itu tampak sibuk menawarkan barang jualan kepada turis. Hiruk-pikuk suara pemilik toko menjadi bagian utama keramaian di Souq. Kira-kira 300 meter hingga 400 meter dari jalan utama masuk ke dalam Souq, terdapat sebuah lorong kecil yang dipercayai sebagai tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Di pojok lorong kecil itu terdapat bangunan sederhana, tempat Ibnu Khaldun pada masa kecil belajar mengaji Al Quran dan ilmu-ilmu agama. Bangunan tersebut kini dijadikan masjid, yang di depannya tertera tulisan, “Pusat Al Quran Ibnu Khaldun”. Tidak sulit mencari lorong itu karena rata-rata warga Tunis di Souq tahu tempat tersebut.
“Saya tidak tahu persis di rumah yang mana Ibnu Khaldun dilahirkan. Namun, yang pasti di salah satu rumah di sepanjang lorong ini dia dilahirkan,” ungkap Direktur Kajian Khazanah pada Institut Nasional Tunisia, Ben Baaziz Sadok. Gedung Institut Nasional Tunisia itu terletak di lorong kecil tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Ben Baaziz, yang mengaku juga sebagai dosen sejarah kuno pada Universitas Sousse-Tunisia, saat itu mendampingi Kompas melihat keadaan Gedung Institut Nasional, yang terdiri dari dua lantai. “Institut Nasional itu merupakan proyek Pemerintah Tunisia untuk menghimpun dan mendokumentasi arsip-arsip peninggalan sejarah negeri ini, termasuk semua arsip menyangkut Ibnu Khaldun,” ujar Ben Baaziz.
“Gedung ini sudah ada sejak zaman Ibnu Khaldun dan mengalami renovasi beberapa kali. Sementara gedung dalam bentuknya yang terakhir ini, kira-kira baru berusia 80 tahun. Dan, ada sekitar 20 pegawai yang bekerja sehari-hari di sini,” katanya lagi.
IBNU Khaldun, yang memiliki nama lengkap Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili, menjalani masa remaja dan belajar hingga usia 20 tahun di Kota Tunis-Tunisia, tempat kelahirannya. Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari wilayah Hadramaut-Yaman, yang berhijrah sejak perluasan wilayah Islam ke Andalusia dan berdomisili di wilayah Sevilla, Spanyol.
Keluarga Ibnu Khaldun bersama dua keluarga Arab berpengaruh lainnya, yaitu keluarga Bani Abu Abdah dan Bani Hujjaj, memainkan peran yang signifikan dalam urusan politik dan militer di wilayah Sevilla.
Ketika keluarga Ibnu Khaldun mulai merasa akan semakin dekat jatuhnya Sevilla ke tangan Spanyol pada tahun 1248, mereka keluar menuju Melilia-Maroko, lalu pergi ke Tunisia pada masa kekuasaan Abi Zakariya Hafsid pada tahun 1228-1249.
Meskipun selalu berada dalam situasi pengungsian, keluarga Ibnu Khaldun mampu mempertahankan reputasi keilmuan dan status aristokrasinya. Maka, Abu Bakar Muhammad bin Hassan (kakek Ibnu Khaldun) dipercaya menjabat urusan keuangan.
Namun, Ahmed ibnu Abi Imarah Masieli, yang berkuasa di Tunisia pada tahun 1283-1284, menangkap Bin Hassan serta menyita semua kekayaannya dan akhirnya membunuhnya. Meski demikian, Muhammad (putra Bin Hassan), yang merupakan kakek langsung Ibnu Khaldun, tetap menunjukkan loyalitas terhadap Sultan Imarah Masieli dan menduduki beberapa posisi penting di Tunisia dan Aljazair.
Sementara Muhammad (putra Muhammad)-ayah kandung Ibnu Khaldun-memilih tidak terjun ke dunia politik dan berkonsentrasi pada keilmuan serta kesusastraan. Hal itu membawa inspirasi pada putranya, Ibnu Khaldun, untuk mengikuti jejak ayahnya, yakni menekuni dunia keilmuan.
Pada saat itu, Kota Tunis kaya dengan para ulama dan cendekiawan yang terkenal di wilayah Arab Maghrib dan bahkan Benua Afrika. Interaksi Ibnu Khaldun dengan para ulama Arab Maghrib, terutama mereka yang beraliran rasionalis, mendorongnya untuk belajar filsafat yang kelak memengaruhi jalan pemikirannya.
Masa kedua perjalanan hidup Ibnu Khaldun disebut sebagai masa petualangan politik, yang bermula di usia 20 tahun hingga 43 tahun. Ibnu Khaldun saat itu bertekad berangkat ke Kota Fez-Maroko untuk menimba ilmu, yang kala itu tempat tersebut kaya dengan para ulama terkenal yang hijrah dari Andalusia.
Ketika tiba di Kota Fez pada tahun 1354, Ibnu Khaldun memprediksi akan mendapatkan jabatan penting, tetapi ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kekecewaan tersebut membuat Ibnu Khaldun semakin berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan. Kendati begitu, ambisi politik Ibnu Khaldun tidak pernah pudar.
Ketika Sultan Marinides di Kota Fez jatuh sakit, ada upaya yang melibatkan Ibnu Khaldun untuk mengembalikan mantan penguasa Biaja-Aljazair Pangeran Abi Abdullah ke tampuk kekuasaan di Fez. Namun, upaya yang disebut sebagai gerakan konspirasi tersebut terbongkar dan Ibnu Khaldun dijebloskan ke penjara selama dua tahun (1357-1358).
Ketika Abu Anan wafat, terjadi pertarungan memperebutkan kekuasaan. Ibnu Khaldun mengambil manfaat dari pertarungan tersebut, dan ia dapat dibebaskan dari penjara. Setelah keluar dari penjara, Ibnu Khaldun bergabung dalam barisan oposisi dalam upaya meraih posisi dalam kekuasaan.
Pada tahun 1359, Ibnu Khaldun mendapat posisi penting, yakni dipercaya sebagai sekretaris Sultan Marinides baru, Abi Salim. Namun, Ibnu Khaldun menduduki posisi tersebut hanya sekitar dua tahun lantaran goyahnya kekuasaan Abi Salim menyusul aksi unjuk rasa terhadap kekuasaan Abi Salim itu, termasuk memprotes peran Ibnu Khaldun dalam kekuasaan yang akhirnya berhasil didepaknya.
Ibnu Khaldun kemudian merasa sudah tidak mendapat tempat lagi di Fez dan berusaha keluar dari kota tersebut. Ia semula berniat kembali ke Tunisia setelah gagal di Fez. Namun, Ibnu Khaldun memilih pergi ke Granada-Andalusia. Di Granada, Ibnu Khaldun untuk pertama kalinya melakukan komunikasi dengan dunia Kristen ketika ia diutus oleh Ibnu Khatib (penguasa Muslim Granada) untuk mengadakan kesepakatan damai dengan penguasa Kristen di Sevilla, Pedro The Cruel.
Pada tahun 1365, Ibnu Khaldun keluar dari Granada setelah merasakan situasi di wilayah itu tidak kondusif lagi bagi dia. Ia berharap mendapat posisi penting lagi di wilayah Arab Maghrib.
Penguasa Biaja-Aljazair kebetulan menawarkan pada Ibnu Khaldun jabatan deputi raja dengan mengajar dan sebagai khatib di Masjid Kasbah. Sementara adiknya, Yahya Bin Khaldun, mendapat jabatan sebagai hakim agung. Namun, masa itu cepat berakhir pula karena penguasa Konstantin, Abu Abbas, memerangi Biaja dan membunuh penguasanya, Abu Abdullah.
Sejak itu Ibnu Khaldun memilih istirahat sementara dari dunia politik dan berkonsentrasi pada dunia keilmuan. Akan tetapi, ambisi politik Ibnu Khaldun ternyata belum pudar sama sekali. Ia mendorong terjalinnya koalisi antara Sultan Hafsi Abi Ishak Bin Ibrahim dan Sultan Tiemcen Abi Hammu melawan penguasa Biaja Abu al Abbas.
Ia memimpikan menyatukan wilayah Arab Maghrib dari keterpecahan dan persaingan antara penguasa wilayah satu dan lainnya. Namun, lagi-lagi ia mengalami kekalahan politik ketika penguasa Tiemcen, Abu Hammu, ditaklukkan. Ibnu Khaldun sendiri ditangkap tentara Sultan Abdul Aziz Marinides tatkala hendak menyeberang ke Andalusia, tetapi tidak beberapa lama setelah itu ia dibebaskan lagi.
Ia kembali lagi ke Fez dan mendapat sambutan hangat di kota tersebut. Ia berkonsentrasi belajar di kota itu. Namun, tidak berapa lama setelah itu, ia ditangkap dan lalu dibebaskan lagi serta diizinkan menyeberang ke Andalusia. Pada tahun 1375, Ibnu Khaldun kembali ke Arab Maghrib dan berdomisili bersama keluarganya di Kota Tiemcen-Aljazair.
Ibnu Khaldun menjalani masa tua dan isolasi diri untuk konsentrasi terhadap ilmu pengetahuan, bermula dari usia 43 tahun hingga wafatnya. Pada masa itu, Ibnu Khaldun memilih meninggalkan dunia politik. Ia kemudian keluar dari Tiemcen dan berdomisili di wilayah Oran selama empat tahun, yakni tahun 1375-1379.
Ketika tinggal di Oran, Ibnu Khaldun mulai mengarang kitab Al Muqaddimah yang sangat legendaris itu. Di saat mengarang kitab tersebut, Ibnu Khaldun merasa kekurangan referensi, yang memaksa ia minta izin kepada Sultan Hafsid Abu Abbas untuk kembali ke Tunisia.
Ia tiba di Tunis pada tahun 1378 setelah meninggalkannya selama 27 tahun. Ia menyelesaikan kitab Al Muqaddimah di Tunisia.
Dalam Al Muqaddimah, Ibnu Khaldun menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara. Ia mulai menyadari pula, walaupun secara kultural Islam masih berada dalam zaman keemasan, basis material dari hegemoni Islam ketika itu telah melemah. Misalnya, wilayah-wilayah Islam di Afrika utara menghadapi tantangan dari suku-suku nomaden tradisional serta persaingan antara penguasa di satu sisi dan kekuatan Kristen di sebelah utara yang menguasai alur Mediterania di sisi lain. Invasi Mongol dari timur juga menggerogoti struktur yang telah terbangun dan kota-kota peradaban Islam.
MESKIPUN telah berkonsentrasi mengajar dan mendalami ilmu, lawan-lawan Ibnu Khaldun terus mengganggu, yang akhirnya ia memutuskan meninggalkan Tunis dan Arab Maghrib.
Pada tahun 1382, ia meninggalkan Tunisia menuju Alexandria dan kemudian ke Cairo. Ia mulai menjalani hidup di Cairo sebagai pengajar di Universitas Al Azhar. Pada tahun 1384, ia diangkat sebagai hakim untuk mazhab Maliki.
Di Cairo pun ia memiliki banyak musuh yang selalu berusaha menyingkirkannya dan akhirnya ia dipecat sebagai hakim pada tahun 1385. Ia kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembali dari Mekkah, ia cenderung ke arah sufi dan memimpin sebuah sekolah sufi. Setelah 14 tahun mengajar, Ibnu Khaldun dipercaya kembali sebagai hakim pada tahun 1399, tetapi dipecat lagi pada September 1400.
Pada bulan Desember 1400, Ibnu Khaldun keluar dari Cairo menuju Damaskus. Di Damaskus, ia kembali menghadapi sebuah pertarungan kekuasaan yang memaksa ia kembali ke Cairo. Pada tahun 1401, ia tiba di Cairo dengan sambutan hangat dan diangkat kembali sebagai hakim hingga wafatnya pada tanggal 17 Maret 1406.
Patung Ibnu Khaldun di pusat kota Tunis yang gagah perkasa memang seperti membersitkan dirinya sebagai seorang ilmuwan besar dan sekaligus politisi kawakan। Dua identitas itulah yang melekat pada diri Ibnu Khaldun hingga akhir hayatnya.(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
___________________________________________________________________
Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadhrami, 14th-century Arab historiographer and historian, was a brilliant scholar and thinker now viewed as a founder of modern historiography, sociology and economics. Living in one of humankind’s most turbulent centuries, he observed at first hand—or even participated in—such decisive events as the birth of new states, the death throes of al-Andalus and the advance of the Christian reconquest, the Hundred Years’ War, the expansion of the Ottoman Empire, the decline of Byzantium and the great epidemic of the Black Death. Albert Hourani described Ibn Khaldun’s world as “full of reminders of the fragility of human effort”; out of his experiences, Arnold Toynbee wrote, “He conceived and created a philosophy of history that was undoubtedly the greatest work ever created by a man of intelligence….” So groundbreaking were his ideas, and so far ahead of his time, that a major exhibition now takes his writings as a lens through which to view not only his own time but the relations between Europe and the Arab world in our own time as well. —The Editors

Entry filed under: AFRICA. Tags: .

Mt. Bromo & Semeru-A Spectacular Volcanic Landscape in East Java Kota Kairouan, Titik Awal Islam ke Africa dan Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

August 2007
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: