Kota Kairouan, Titik Awal Islam ke Africa dan Eropa

August 23, 2007 at 6:04 pm Leave a comment

SEORANG belia bertubuh kurus dan berkulit hitam tiba-tiba masuk ruangan utama, shalat di masjid besar Kota Kairouan yang dikenal dengan nama Masjid Uqba bin Nafi itu. Kemunculannya secara tiba-tiba itu memang cukup menarik perhatian orang yang berada di ruangan tersebut.
IA ternyata adalah salah seorang murid asal Afrika yang sedang belajar pada sekolah Tahfidh Al Quran di masjid tersebut untuk menghafal kitab suci Al Quran, yang terdiri dari 30 juz itu. Ia mengaku bernama Yusuf, yang baru berusia 15 tahun. “Saya sudah dua tahun belajar di sini, dan telah hafal sebanyak 25 juz dari kitab suci Al Quran,” ungkap Yusuf.
Yusuf yang berasal dari Niger adalah seorang dari 10 murid asal Afrika yang sedang belajar di Kairouan. Mereka datang ke Tunisia, tepatnya Kota Kairouan, dari negara mereka masing-masing atas biaya sebuah lembaga sosial swasta di Tunisia. Selama belajar di Kairouan, mereka tinggal gratis di asrama dan mendapatkan jaminan makanan serta uang saku.
Menurut Hussein (salah seorang penjaga masjid), murid-murid dari Afrika selalu datang secara berkesinambungan, yang berasal dari Mali, Nigeria, Niger, dan Burkina Faso.
Memasuki Kota Kairouan memang segera terkesan tentang sebuah kota santri yang bernuansa agamis. Hussein menyebutkan, ada sekitar 250 masjid yang tersebar di seluruh pelosok Kota Kairouan. “Di setiap pojok atau lorong kecil di kota ini, pasti terdapat masjid,” ungkap Hussein.
Ia juga mengungkapkan, dari seusai salat magrib hingga waktu isa tiba, para murid dari Afrika, Tunisia, dan negara Arab lain menghafal Al Quran di Masjid Uqba bin Nafi.
“Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional di Tunisia selalu digelar di Kota Kairouan. Para ulama dan cendekiawan Tunisia kini berusaha membangkitkan kembali kejayaan dan nama besar Kota Kairouan yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah,” kata Hussein lagi.
Karena itu, lanjutnya, peristiwa penting keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Quran dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kini senantiasa diadakan di Kota Kairouan, bukan di ibu kota Tunis.
JARAK antara Kota Tunis dan Kairouan sekitar 150 kilometer dengan melalui jalan yang sangat mulus. Maklum, infrastruktur negeri Tunisia-termasuk jalan-jalan raya antarkota-yang penghasilan devisanya mengandalkan dari bisnis turisme, tampak terpelihara secara apik. Seperti diketahui, sekitar 5 juta turis mengunjungi Tunisia setiap tahun. Kota Kairouan merupakan salah satu tujuan utama wisata para turis itu.
“Ada sekitar 1.000 hingga 2.000 turis yang mengunjungi Kairouan dan Masjid Uqba bin Nafi setiap hari,” kata Hussein, yang setiap hari menjaga masjid tersebut.
Kairouan hingga saat ini sangat diminati para turis dari mancanegara. Namun, turis khusus di kota itu adalah wisatawan budaya atau para arkeolog. Sebagian besar turis mengunjungi Kairouan dengan bus-bus turis yang datang dari kota wisata Sousse atau Kota Hamamet. Jarak antara Kairouan dan Souse hanya sekitar 50 kilometer, sedangkan antara Kairouan dan Hamamet sekitar 100 kilometer.
Para turis biasanya menghabiskan waktu sehari di Kota Kairouan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Masjid Uqba bin Nafi. Sebagian besar Turis yang berminat mengunjungi Kairouan berasal dari Eropa dan Jepang yang telah membaca tentang sejarah kota tersebut sebelumnya. Kairouan dikenal merupakan paduan antara Kota Damaskus dan Marrakesh, Maroko.
Di Kairouan, para turis lebih senang mengunjungi pasar sajadah atau karpet tradisional, parfum lokal, dan barang-barang yang terbuat dari perak atau tembaga. Di sekitar Masjid Uqba bin Nafi pun terdapat banyak kios dan toko yang menjual sajadah, karpet, dan barang-barang tradisional lainnya. Setiap turis atau penziarah pasti tidak lepas dari rayuan pada penjual tersebut agar sudi mengunjungi kios atau toko mereka.
Seperti halnya di kota turis lainnya, penduduk Kairouan juga mengais rezeki dengan menjual barang-barang tradisional itu kepada para turis yang berkunjung ke kota mereka.
Bagi para turis yang kurang memahami bahasa dan peradaban Arab, mereka lebih menyenangi mengunjungi kawasan Raqadah di pinggiran Kairouan. Di sana terdapat peninggalan istana para raja dari Dinasti Aghlabid, yang berkuasa di kota tersebut lebih dari satu abad. Di Raqadah, mereka bisa menyaksikan hiasan dan lukisan kehidupan kabilah lokal.
KEUNGGULAN Kairouan adalah keberadaan Masjid Uqba bin Nafi yang sangat populer dan histroris. Masjid tersebut merupakan masjid tua terbesar dan terpenting di Tunisia dan Benua Afrika. Dari kota itu dengan masjidnya, agama Islam dulu bertitik tolak menyebar ke Benua Afrika, Kepulauan Sisilia, dan Italia selatan. Sementara tentara Tareq bin Ziyad bertolak dari Kairouan menuju Andalusia (Spanyol sekarang).
Karena itu, keberadaan murid-murid asal Afrika secara permanen di Kairouan ibarat tali sejarah yang menyambungkan kota tersebut dengan benua hitam Afrika. Kota Kairouan, Benua Afrika, dan agama Islam bak sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Kekhasan Kairouan adalah menyuguhkan paduan antara panorama khazanah dan modernitas. Benteng Turki dengan model bangunan asli (berbentuk bangunan benteng), misalnya, kini dijadikan hotel berbintang lima dengan segala macam fasilitas modern, seperti kolam renang, restoran, dan kamar-kamar yang elok.
Di Kairouan sendiri, pemandangan rumah-rumah penduduk khas Arab dengan jalan-jalan yang sempit mengingatkan kota lama di Cairo dan Damaskus. Menjelajah Kota Kairouan memang seakan-akan menemukan sebuah perjalanan sejarah yang telah terhenti. Bangunan dan rumah peninggalan masa abad pertengahan Islam mewarnai secara mencolok di Kota Kairouan, seperti halnya pemandangan di Kota Cairo (Mesir), Fez, dan Marrakesh di Maroko.
Adalah Uqba bin Nafi sang pendiri Kota Kairouan pada tahun 670, dan ia langsung merancang pembangunan masjid dengan menggunakan nama dirinya “Uqba bin Nafi”. Alkisah, ia bersama bala tentaranya berangkat dari sebuah daerah Sahara di Mesir dan terus menyelusuri hamparan luas Sahara di Afrika utara hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Kairouan-Tunisia.
Di tempat tersebut, Uqba bin Nafi bersama bala tentaranya itu membangun sebuah kamp sebagai pangkalan dan titik tolak menuju wilayah Afrika lainnya dan Andalusia. Kamp tersebut akhirnya menjadi sebuah kota Islam pertama di wilayah Afrika utara, yang bahkan ada menyebut sebagai kota suci Islam keempat setelah Mekkah, Madinah, dan Jerusalem (Al Quds).
Pada tahun 698, tentara Uqba bin Nafi berhasil mengalahkan tentara Byzantines di Carthage, yang mengantarkan ia menguasai hampir seluruh Afrika utara yang dikenal dengan sebutan “Ifriqiya”. Kota Kairouan dijadikan sebagai ibu kota wilayah Afrika utara itu.
Gubernur wilayah tersebut diangkat oleh khalifah dari Dinasti Umayyah di Damaskus dan lalu Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Tradisi itu terus berlanjut pada abad berikutnya, yakni pada masa Dinasti Aghlabid (abad ke-9), Dinasti Fatimiyah (abad ke-10), dan Dinasti Zirid (abad ke-11).
Pada abad-abad itu, Kota Kairouan menjadi pusat budaya terpenting di dunia Arab yang kaya dengan para ilmuwan, literatur, dan seniman. Pertanian di wilayah tersebut sangat berkembang berkat sistem irigasi yang canggih dan aktivitas perdagangan yang juga melesat dengan wilayah sekitarnya.
Kota Kairouan secara politik dan ekonomi dalam waktu singkat mengungguli Kota Tunis, Tiemcen, Fez, Marrakesh, dan kota-kota lain di Afrika utara.
Sebagai salah satu kota suci Islam, Kota Kairouan pun dalam sekian abad sangat menarik minat para penziarah kaum Muslim dari Afrika utara dan Afrika hitam.
Kota Kairouan semula berfungsi seperti kamp militer tentara Arab, kemudian meluas dan menjadi sebuah kota. Kota tersebut beralih menjadi ibu kota Islam pertama di wilayah Arab Maghrib.
Kota Kairouan mengalami perluasan pertama pada tahun 743, kemudian diperluas lagi untuk kedua kalinya pada tahun 774. Kota itu mencapai bentuk dan luasnya seperti sekarang pada tahun 836 ketika Pangeran Ziyadatullah I menginstruksikan merenovasi kota tersebut dan membangun menara masjid seperti yang terlihat sekarang.
Menara Masjid Uqba bin Nafi memiliki tinggi sekitar 25 meter, sedangkan kubah masjid mempunyai tinggi sekitar tujuh meter.
Sementara sumber sejarah lain mengungkapkan, komandan Arab Hassan bin Nu’man adalah pelaksana pembangunan masjid itu atas dasar rancangan yang dibuat Uqba bin Nafi. Masjid itu kemudian mengalami perkembangan dan perluasan dari masa ke masa secara berkesinambungan, dari Khalifah Umayyah, Hisham Bin Abdul Malik, hingga mencapai bentuknya seperti sekarang ini.
Kota Kairouan mengalami renovasi lagi pada tahun 862, tahun 1025, tahun 1294, tahun 1618, dan pada akhir abad lalu. Renovasi terakhir terpenting dilakukan pada tahun 1970-1972, bersamaan dengan peringatan 13 abad berdirinya kota tersebut.
UNESCO, mulai tahun 1986 hingga tahun 1992, membantu mengucurkan dana untuk merenovasi Kota Kairouan, termasuk merenovasi ruangan shalat, menara, dan atap dalam masjid.
Para pendiri kota itu tampaknya sejak awal sudah menyadari bahwa di wilayah itu sangat jarang hujan. Maka, guna menampung air untuk kebutuhan masjid, mereka membangun tempat-tempat penyimpanan air untuk menampung air hujan. Tempat-tempat penampungan air itu tetap terpelihara secara baik hingga sekarang dan bahkan menyuplai kebutuhan air penduduk kota.
Sementara pintu-pintu yang dikenal sangat indah di Masjid Uqba bin Nafi adalah pintu barat, pintu air, pintu Rihanah, dan pintu Saleha.
Mimbar masjid di Kairouan merupakan mimbar tertua dan terkenal di Tunisia. Mimbar tersebut terbuat dari kayu jati dengan kualitas tinggi dan dihiasi beberapa ukiran menarik. Mimbar itu sangat terpelihara karena para khatib masjid adalah para pangeran yang sedang berkuasa pada zamannya.
Sejumlah sejarawan mengungkapkan, Kota Kairouan dibangun di atas reruntuhan Kota Romawi yang diwarnai bangunan berteknologi tinggi pada masanya.
Jangan lupa, siapa pun yang mengunjungi Kota Kairouan atau kota lain di Tunisia, cobalah makan kuskus (makanan khas Tunisia) yang dicampur dengan daging dan susu sambil menikmati kelihaian warga Kairouan dengan menunggang kuda dan nikmatilah permainan akrobatiknya.

(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
_________________________________________________________________
City’s History
Kairouan (variations include Kairwan, Kayrawan, Al Qayrawan) is a city in Tunisia, about 160 kilometers south of Tunis. In 2003 the city had about 150,000 inhabitants. Founded in about the year 670, the original name was derived from Arabic kairuwân, from Persian Kârawân, meaning “camp”, “caravan”, or “resting place” (see caravanserai). It is the capital of the Kairouan Governorate, and regarded by Muslims as a holy city.
Kairouan was founded in about the year 670 when the Muslim general Uqba ibn Nafi selected a site in the middle of a dense forest, then infested with wild beasts and reptiles, as the location of a military post. It was to keep in check the Berber hordes and was located far from the sea where it was safe from attack. A city soon developed, with luxuriant gardens and olive groves. Ibn Nafi was killed in battle by the Berbers about fifteen years after the military post was established.
The city was soon recaptured and remained for four centuries a major holy city, the “Mecca of North Africa”. In the tenth century, the city was embellished by the Aghlabites who ruled Ifriqiya from there between 800 and 909. It was the capital in the eleventh century, and was famous for its wealth and prosperity.
About the middle of the eleventh century, the Ismaili Shiite Fatimites of Egypt instigated the Egyptian Bedouins to invade this part of Africa. These invaders so utterly destroyed the city in 1057 that it never regained its former importance. Then Mahdia became the capital under the Fatimites. Under the Ottomans, who called it Kairuan in Turkish (as in modern German), and included mention of the city in the full style of the Great Sultan (alongside broader Barbary and the new vilayet), Tunis became the capital (as seat of the Dey, next the soon ever more autonomous (Basha) Bey), and remains so in modern Tunisia. In 1881, Kairouan was taken by the French, after which non-Muslims were allowed access to the city.
Kairouan is a holy city for many Muslims, and many Sunni Muslims consider it the fourth holiest city of Islam, after Mecca, Medina and Jerusalem, and the holiest city of the Maghreb. There are very many mosques in the city, among which the great mosque. For a long time, non-muslims were not allowed to enter the city, in more recent times this is allowed. Pilgrimages are made to this holy city. Judaism, no longer prevalent in the city, has an illustrious history in Kairouan, particularly in the early Middle Ages. Rabbeinu Hananel was from Kairouan and many other important and famous rabbis, including the RIF, (Rabbi Isaac Alfasi) studied there with him.
The souk (market place) of Kairouan is very famous, it is in the medina, which is surrounded by walls, and of which the entrance gates can be seen from far. Products that are sold here are carpets, vases and goods made of leather. As with merchants in most major Tunisian cities, Kairouan merchants rely on tourism for much of their income. The city’s other main site is the Great Mosque, which is said to largely consist of its original building materials. In fact most of the column stems and capitals were taken from ruins of earlier-period buildings, while others were produced locally.

Entry filed under: AFRICA. Tags: .

Mengenang Jejak Ibnu Khaldun di Tunisia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

August 2007
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: