Dari Agra dengan Cinta

August 23, 2007 at 4:50 am Leave a comment

Oleh: Arif B Sholihah
You allowed your kingly nation to vanish, Shah Jahan, but your wish was to make a tear drop of love in the cheek of eternity (R Tagore).

Kalimat indah Rabindranath Tagore yang dikutip buku panduan perjalanan di pangkuan terus saja terngiang di telinga. Begitulah sang pujangga menggambarkan Tajmahal yang akan segera kami ziarahi. Ia bagaikan tetesan air mata cinta pada pipi keabadian.
Agra masih empat jam lagi. Langit sudah mulai senja. Hamparan ladang mustard dengan bunga-bunga kuning cerianya terhampar di kanan-kiri jalan. Sesekali tampak perempuan desa berpakaian sari warna-warni membawa kendi air di kepala.
Menyusuri negeri Hindustan melalui jalan darat memang tidak selalu mudah. Begitu keluar dari jalan raya arah Jaipur, Rajasthan, perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang berlubang dan sempit menjadi tantangan tersendiri. Seperti saat ini.
Hari semakin gelap saja. Jendela bus mulai kami tutup. Sesegera setelah gelap datang, cuaca semakin berangin. Sopir mulai menyalakan hio dan lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pooja kepada mobile shrine yang terpajang di kaca depan bus kembali dilakukan. Kami pun ikut terbawa suasana ritual mereka yang syahdu. Ooh… Hindustani….
Pukul 21.00 waktu setempat kami tiba di Agra. Sebuah kota di gurun Uttar Pradesh yang masih tampak sangat hidup. Di kanan-kiri jalan baliho-baliho iklan terpampang tanpa penataan. Wajah-wajah akrab artis Bollywood seolah menghilangkan penat perjalanan.
Agra bukanlah kota besar, namun sejak beratus-ratus tahun lalu Agra telah terpilih menjadi ibu kota bagi Dinasti Sikandra, jauh sebelum Dinasti Mughal akhirnya berkuasa dari kota di tepi Sungai Yamuna. Oh Agra, kami sudah tiba.
Janji untuk melihat Tajmahal di langit malam Agra pupus begitu kami tiba di kamar hotel. Meski hotel melati, tetapi penat membuat kami bahkan melupakan makan malam. Harapan bermimpi tentang kecantikan Mumtaz Mahal dan kegagahan Shah Jahan menjadi pilihan. Seawal pukul 04.00 kami dibangunkan suara-suara orang berjalan dari koridor hotel. Kami pun ingin segera bergegas. Selamat pagi Agra.
Pukul 06.00. Kabut masih putih ketika kami menaiki puncak hotel. Sungguh di luar dugaan, Tajmahal berdiri dekat dengan kami. Sangat dekat. Meski dinding marmer putihnya masih dipeluk kabut, tetapi keindahannya membuat kami menahan napas. Cuaca dingin tidak lagi terasa begitu bangunan dengan proporsi sempurna itu tampak di hadapan. Ternyata hanya dengan berjalan 200 meter saja gerbang Tajmahal telah di depan mata.
Pengunjung dari seluruh dunia berduyun-duyun. Wajah-wajah memancarkan rasa keingintahuan yang besar pada Taj, sang legenda cinta. Kewujudannya adalah obsesi bagi Shah Jahan yang hidup pada era tahun 1592-1666 Masehi, meski dengan mengorbankan kerajaannya yang besar dan gemilang. Shah Jahan dikenal sebagai raja yang royal membangun bangunan megah, meski dengan menghabiskan harta negara. Dan, Tajmahal-lah puncaknya. Ia bukanlah istana kebesaran, tetapi pusara. Tempat sang kekasih Mumtaz dibaringkan melalui keabadian media arsitektur.
Taj sang arsitek
Seorang lelaki Rajasthani menjadi pemandu kami. Kumis tebalnya yang tampak sangar hilang begitu saja seketika ia menggambarkan keindahan Tajmahal. Selama 14 tahun Tajmahal dibangun dengan penuh energi dari sang raja.
Nama arsitek tidak pernah ada disebut dalam sejarah, para perajin berusaha menerjemahkan keinginan sang raja, sehingga dapat dikatakan dia sendirilah arsitek bangunan ini. Pada tahun 1644 Masehi bangunan Tajmahal sempurna berdiri. Terbuat dari marmer putih dari Gurun Rajasthan, berbagai ornamen ukiran meliputi seluruh dindingnya dengan bebatuan mulia di sekelilingnya.
Tajmahal dibangun oleh kebesaran cinta, kata pemandu kami. Itulah sebabnya ia selalu memancarkan keindahan yang berbeda-beda setiap saatnya. Pagi hari ia akan tampak kekuningan oleh matahari pagi dan semakin siang ia semakin putih. Marmer putihnya memancar pada cahaya yang sempurna. Dan malam hari, terutama purnama, bayang-bayang hitam Tajmahal dari Sungai Yamuna akan tampak seolah ia adalah bangunan kembar Tajmahal putih dan Tajmahal hitam di permukaan Yamuna.
Melangkah di atas lantai Tajmahal, ornamen mawar di seluruh dindingnya mulai tampak bersinar. Batu-batu mulia yang terselip di antaranya menjadikan dinding Tajmahal penuh warna.
Kutipan ayat-ayat Al Quran terhampar di atas gerbang ruang utama. Pusara Mumtaz mulai tampak dalam kegelapan. Kedudukannya yang simetris dengan bangunan sungguh terdesain sempurna. Di sisinya muncul pusara lain, yang tampak seperti elemen tambahan saja. Ia adalah pusara sang raja sendiri, Shah Jahan. Tidak salah lagi, hanya untuk sang ratulah bangunan indah ini dibangun.
Mumtaz Mahal (1592-1631) atau sebelumnya dikenal sebagai Arjamand Banu adalah istri kesayangan Shah Jahan. Nama Mumtaz Mahal yang berarti The Chosen One of the Palace diberikan kepadanya pada hari pernikahan mereka. Nama ini juga kemudian menjadi abadi dipusaranya sendiri, Tajmahal.
Mumtaz adalah keturunan Persia, menikah dan kemudian dikaruniai 14 orang anak, pada usia perkawinan mereka yang ke-19. Kelahiran anak yang ke-14 inilah yang membawanya ke alam keabadian. Mumtaz meninggal pada usia yang sangat muda, 39 tahun.
Berperahu
Ziarah kali ini terasa begitu bermakna ketika pemandu mengajak kami melalui jalan yang selalu digunakan Shah Jahan semasa tuanya untuk mengunjungi Tajmahal.
Upacara kebesaran melalui gerbang utama tidak selalu digunakan sang raja ketika ia sangat rindu kepada kekasihnya. Dia lebih memilih mendekati Tajmahal dengan berperahu dari istananya di Agra Fort ke Taj melalui Sungai Yamuna.
Apalagi setelah ia dipenjarakan oleh putranya sendiri sehingga tidak lagi dapat mengunjungi Tajmahal. Dia memilih berdiam sehingga meninggalnya (1666 M) di Muthumman Burj, sebuah ruang di puncak Agra Fort yang menghadap langsung ke Tajmahal.
Jika pada masa lalu Shah Jahan berperahu dari Agra Fort ke Tajmahal, kita pun dapat melakukannya. Paling tidak untuk ikut merasakan bagaimana sang pencinta ini bergerak mendekati Tajmahal. Melalui dermaga yang hanya dapat diakses keluarga kerajaan, Shah Jahan memasuki kompleks Tajmahal untuk masuk langsung menuju makam sang permaisuri yang terletak di tengah bangunan utama Taj.
Kini, dengan ongkos 20 rupee saja kita akan diajak menyeberangi sungai ini dan menikmati Tajmahal dari seberang sungai। Jangan lupa, mintalah kepada si pengemudi perahu untuk menyanyikan lagu memuji keindahan Sungai Yamuna dan bangunan Tajmahal ini. Sungguh tidak terlupakan.

Arif B Sholihah Dosen Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Peserta 3rd International Field School on Asian हेरिटेज.

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Oktober 2005.

Entry filed under: ASIAN. Tags: .

Mt. Rinjani, Where the Community Manage the Treks The Dramatic of Kecak Dance in Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

August 2007
M T W T F S S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: