Menengok "Saudara" di Madagaskar

July 27, 2007 at 12:00 am 1 comment

MADAGASKAR, pulau terbesar keempat di dunia setelah Greend Island, Irian, dan Kalimantan, terletak dekat benua Afrika. Dengan penduduk sekitar 16 juta orang, mayoritas berwajah Melanesia, bahkan cenderung Indonesia, memiliki kekhasan sendiri. Mereka merasa dekat dengan Indonesia, bahkan presidennya, Marc Malomanana, ketika menerima awak perahu Borobudur di istananya menyebutkan, “Kita adalah saudara”.
Nah, inilah beberapa keadaan “saudara” kita.
Wartel Tenda
MODALNYA cukup tenda kafe yang ditanam di pinggir jalan dilengkapi dengan meja kecil untuk menaruh telepon seluler, buku catatan, dan dua stopwatch. Sebuah papan kecil bertuliskan nama perusahaan seluler berikut tarif menelepon lokal, interlokal, atau internasional disandarkan di meja. Siapa pun yang membutuhkan hubungan telepon bisa langsung disambungkan. Begitu hubungan tersambung, tangan kiri pemilik menyerahkan telepon seluler, tangan kanan memijit tombol penghitung waktu (stopwatch). Jika pembicaraan usai, pemakai tinggal membayar sesuai waktu penggunaannya.
Ini memang baru bisa dijumpai di Madagaskar, tepatnya di kota Antananarivo. Namun, idenya sungguh brilian. Bayangkan, membuka warung telepon cukup beratap tenda yang bisa pindah ke mana-mana. Bahkan, ada cara yang lebih sederhana lagi, seorang lelaki menyandang tas di depan dadanya, bertuliskan Taxi Phone. Tas itu berisi dua telepon genggam dan lelaki itu menjajakan jasanya masuk-keluar pasar. Siapa yang mau menelepon tinggal menyerahkan nomornya.
Di Madagaskar terdapat dua perusahaan seluler, Orange dan Madacom. Jika pelanggan menyerahkan nomor telepon, pemilik wartel itu segera mengenali SIM card keluaran mana dan ia pun akan menghubungi tujuan dengan telepon seluler ber-SIM card yang sama agar tarifnya lebih murah. Bagi pengguna telepon, untuk pembicaraan lokal per menit dikenai biaya FMG 1.000 setara Rp 1.250. Tarif untuk interlokal MFG 3.500 (Rp 4.500) dan hubungan internasional MFG 10.000 (Rp 12.500) per menit. Pemilik berlangganan pascabayar sehingga tarifnya tentu lebih murah.
Jadi, sebenarnya tak perlu susah-susah membuka warung telepon. Sederhana, tetapi praktis. (ms)

“Sanering” Diam-diam
MADAGASKAR baru saja mengakhiri pemerintahan sosialis dan berganti menjadi liberal. Selain melakukan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, pemerintahan PM Malomanana melakukan pemotongan nilai uang secara damai. Ini dilakukan selain untuk mengangkat nilai uangnya yang selama ini menggunakan franc Malagasi (FMG), juga mengurangi dominasi Perancis.
Kini, Pemerintah Madagaskar mengeluarkan mata uang aryary di samping FMG yang masih berlaku. Mata uang aryary bernilai lima kali lipat dibandingkan dengan FMG dan hal itu dicantumkan dalam lembar aryary. Pada awalnya tulisan aryary tercetak lebih kecil daripada MFG, namun pada lembar uang keluaran tahun 2003, justru tulisan aryary yang diperbesar.
Di pasar-pasar tradisional luar kota Antananarivo, ibu kota Madagaskar, harga-harga ditetapkan dalam aryary, sedangkan di dalam kota orang masih menggunakan FMG sebagai patokan. Menurut ketentuan pemerintah, pada tahun 2004 mendatang, mata uang MFG secara berangsur akan ditarik dan akhirnya tidak akan digunakan lagi.
Pemerintah menetapkan 1 dollar AS nilainya setara 6.000 FMG, namun di pasar gelap orang berani menukar hingga 64.000 MFG. Hanya saja pasar gelap memang benar-benar gelap, tidak terang-terangan seperti di Indonesia dulu. Jika penjual dan pembeli tertangkap sedang transaksi, hukumannya cukup berat. (ms)
Detergen untuk Cuci Rambut
PRODUK Indonesia banyak beredar di Madagaskar dan menjadi kesenangan masyarakat. Selain harganya murah, nama Indonesia (apalagi Soekarno) tidak asing bagi mereka. Sabun detergen So Klin, misalnya, dijajakan di banyak tempat hingga pelosok kota. Setiap sachet isi 50 gram dijual sekitar Rp 200 dan tidak hanya digunakan untuk mencuci pakaian, tetapi juga mencuci rambut.
Di pasar-pasar, kita akan menjumpai mi instan, alat-alat elektronik, dan barang pecah belah buatan Indonesia. Harganya bisa separuh dibandingkan buatan Perancis. Ini sangat membantu rakyat yang penghasilan rata-ratanya hanya 250 dollar AS. Namun, kini barang Cina mulai masuk, tentu harganya lebih murah lagi.
Walaupun barang produk Indonesia begitu banyak beredar, tetapi tak tercatat di kantor perwakilan Indonesia. “Barang- barang itu dibawa inang-inang, mereka membawa satu kontainer berisi bermacam barang,” kata Kepala Perwakilan Tetap RI di Madagaskar, Richard Simbolon.
Nama Pasar Mangga Dua dan Tanah Abang sangat dikenal pengusaha Madagaskar yang sering ke Indonesia. Sayang sekali data lain tentang Indonesia termasuk obyek wisata sangat minim. Salim Joonas, Konsul Jenderal RI di Mauritius, negara tetangga Madagaskar, mengeluhkan kurangnya informasi tersebut. Padahal menurut pengakuannya, setiap tahun ia mengeluarkan 250 visa wisata ke Indonesia.
“Potensi ada, tetapi supporting tak ada,” katanya sambil menunjukkan TV di ruang tamunya yang memutar VCD tentang Bali tahun 1975. (ms)
Hotel = Warung
ORANG yang baru mengunjungi Madagaskar, apalagi di luar kota, pasti terkecoh dengan banyaknya hotel di negara itu. Di sepanjang jalan banyak kita jumpai papan nama hotel, yang sebenarnya hanyalah warung makan. Hanya di kota besar semacam Antananarivo, Mahajanga, hotel memanglah tempat untuk bermalam.
Menu warung makan di pinggir jalan tak ubahnya di Indonesia, tentu saja namanya berbeda. Singkong rebus dicampur kacang-kacangan ditambah daging sudah menjadi menu yang cukup enak. Jika mau tampak lebih menarik, singkong direbus dengan kulit kayu tertentu atau pewarna yang membuat singkong itu berwarna kemerahan.
Harga daging sapi jauh lebih murah dibandingkan dengan ayam.
Satu kilogram daging sapi bisa dibeli dengan 20.000 MFG setara Rp 25.000, tetapi seekor ayam potong bisa lebih dari Rp 40.000. Itulah sebabnya di pinggir jalan banyak penjual daging sapi lengkap dengan sosisnya yang bulatannya sebesar bola tenis.

Sumber: Kompas, Senin, 3 November 2003.

Entry filed under: AFRICA. Tags: .

Taman-taman Nasional, Wisata Andalan AS Grajagan (G-Land) not just as a perfect wave, but as a perfect adventure.

1 Comment Add your own

  • 1. Rapion  |  February 21, 2009 at 6:10 am

    Salam. it’s nice artikel,,artikelnya bagus qu tnggu artikel berikutnya ya,,,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: