Lupakan London……

July 26, 2007 at 12:05 pm 3 comments

“Forget London, Now in Dubai (Lupakan London, Sekarang (Semua) Ada di Dubai)”, begitu bunyi iklan Harvey Nichols di perempatan City Centre Deira, jantung kota Dubai. Menyadari cadangan minyaknya menipis, Dubai menata diri untuk menjadi surga belanja di Timur Tengah.
Malam di pengujung hari Kamis itu semakin larut. Satu jam lagi masuk tengah malam. Namun, suasana di Mal City Centre Deira yang menempel dengan bangunan Hotel Sofitel tempat kami menginap masih hiruk-pikuk, padat oleh warga Dubai. Bagi warga kota itu, Kamis malam adalah malam akhir pekan.
Di salah satu sudut di mal tersebut, Ermina masih sibuk melayani pelanggannya. Jam di toko itu sudah menunjukkan pukul 23.15, tetapi belum ada tanda ia akan menutup gerainya. ”Setiap malam akhir pekan mal ini tutup pukul 24.00. Kalau pada hari-hari biasa, tutupnya pukul 22.00,” kata pelayan toko The Watch House itu.
”Meski jam buka ditambah pada akhir pekan, tidak ada tambahan upah,” ujar perempuan yang mengaku asal Filipina itu, berusaha tersenyum. Di akhir pekan itu, dari sore hingga malam pusat perbelanjaan tiga lantai itu penuh sesak oleh warga yang berbelanja.
Antrean panjang terlihat di depan sekitar 30 kasir di pintu keluar Carrefour, yang tetap dipenuhi pengunjung meski—menurut rekan wartawan—pelayanannya menyedihkan. Menurut pemandu wisata kami, mal-mal di Dubai rata-rata buka hingga tengah malam pada akhir pekan. Di malam akhir pekan, jalanan kota Dubai pun selalu macet.
”Booming” mal
”Dubai is a shopper’s paradise”, begitu isi brosur wisata Pemerintah Dubai. Untuk membuktikannya, mal-mal dibangun di mana-mana. Seperti terlihat di Mall of the Emirates, Jalan Sheikh Zayed; atau Mal City Centre Deira, mal-mal di Dubai rata-rata dibuat sangat besar dan luas.
Mall of the Emirates yang dibangun di lahan seluas 223.000 meter persegi, misalnya, menampung sekitar 400 toko dari berbagai merek terkemuka di dunia (Harvey Nichols, Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Roberto Cavalli, dan lain-lain), bioskop 14 layar, dua food court yang bisa menampung 2.300 orang sekaligus, dan arena ski es.
Saat berjalan-jalan di mal itu, Rabu (15/3) petang, dua jam berkeliling rasanya belum cukup merambah separuh isi mal yang konon terbesar di Timur Tengah dan terluas di luar Amerika Utara. Meski tidak sepadat Mall City Centre Deira pada Kamis malam, mal itu cukup ramai.
Pria-wanita—dari yang berpakaian dishdasha (jubah putih untuk pria) dan abaya (jubah hitam untuk wanita) lengkap dengan burqa (cadar) hingga mereka yang cuma bercelana pendek dan berbaju ketat semiterbuka—berjalan mondar-mandir. Dan seperti lazimnya di mal, harga barang di tempat itu tetap tinggi meski Dubai dikenal sebagai kota bebas pajak.
Ambisi Dubai membangun mal yang lebih besar tak pernah terpuaskan. Saat ini, bersamaan dengan pembangunan Burj Dubai—bakal gedung tertinggi di dunia—juga dibangun Dubai Mall. Menempati lahan 50 kali lebih luas daripada lapangan sepak bola, mal itu antara lain akan dilengkapi 1.000 toko khusus dan 7,8 hektar untuk gerai pakaian. Ditargetkan, tahun pertama beroperasinya Dubai Mall mampu menjaring lebih dari 35 juta pengunjung.
Bagi mereka yang ingin harga miring, pasar-pasar tradisional (souk) jawabannya. Harga barang di pasar umumnya bisa ditawar. Salah satu pasar tradisional yang terkenal berlokasi di Deira. Dari pengamatan di pasar emas tradisional Gold Souk di Deira, tak jauh dari Terminal Bus Gold Souk, kondisi pasar-pasar itu sangat bersih dan tertata rapi. Tak ada sampah tercecer.
Seolah tiada kekhawatiran bakal dirampok, berbagai perhiasan emas berupa gelang, kalung, cincin, dan lain-lain dipajang mencolok dari balik lemari kaca. Hanya satu-dua polisi yang tampak santai. ”Angka kriminal di kota ini nyaris nol. Dubai kota yang sangat aman,” kata Ilka Becker, pemandu wisata di Gold Souk.
Seperti terlihat di papan reklame di atas gerbang Gold Souk, Dubai mendapat pengakuan World Gold Council sebagai kota emas (city of gold). Dalam buku Dubai, Gateway to The Gulf disebutkan, kota di tepi Teluk Arab merupakan kota ketiga terbesar di dunia sebagai pusat perdagangan emas setelah London dan Zurich. Di Gold Souk, ada sekitar 200 toko emas, masing-masing mempunyai stok hingga 50 kilogram emas, dari 18 karat hingga 24 karat.
Dubai Duty Free
Naluri berbelanja di Dubai sudah dirangsang saat pengunjung baru saja mendarat di Bandara Internasional Dubai dengan kompleks perbelanjaan bernama Dubai Duty Free. Menempati lahan seluas 5.400 meter persegi di Terminal Sheikh Rashid dan 1.400 meter persegi di terminal yang lain, Dubai Duty Free menawarkan beragam belanjaan: fashion, perhiasan, parfum, barang elektronik, kamera, suvenir, dan sebagainya.
Situs bandara tersibuk di Timur Tengah itu mencatat, penjualan di Dubai Duty Free tahun 2004 menembus rekor 500 juta dollar AS. Ketika bandara tersebut diperluas dengan investasi 4,1 miliar dollar AS, seperti berlangsung saat ini, area ritel tempat berbelanja itu diperluas dengan tambahan lahan seluas 10.000 meter persegi.
”Jangan lupa bawa dua koper kosong jika ke Dubai,” kata Ilonka Leiwakabessy, Manajer Penjualan Emirates-Indonesia, meski setengah bercanda, menggambarkan Dubai sebagai pusat belanja. Dengan segala kemewahannya, sejumlah anggota DPR yang Desember 2005 mengaku studi banding ke Mesir pun tergiur mampir ke Dubai.
Posisinya yang di perlintasan Benua Eropa-Asia-Afrika menyebabkan Dubai sangat strategis menjadi bandara pengumpul (hub port). Dengan kelengkapan fasilitasnya sebagai kota destinasi, Dubai sering dijadikan tempat singgah klub-klub sepak bola Eropa saat mereka tur ke Asia. Kegiatan olahraga kelas dunia, seperti Dubai Desert Classic (golf) dan Dubai Terbuka (tenis), menjadi kalender rutin tahunan di kota ini.
Ibarat pepatah ada gula ada semut, Dubai pun memikat pendatang dari berbagai negara. Sekitar 80 persen penduduk kota itu bukan warga asli Uni Emirat Arab. ”Di sini tempatnya enak, tidak ada pajak. Standar gaji lumayan. Cuma di sini saja yang kurang bagus,” tutur Nur, perempuan Jakarta yang bekerja di restoran, kawasan Jumeirah Beach dan digaji 850 dirham (Rp 2,2 juta) per bulan.
Untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan ke kota itu, Dubai memperkenalkan istilah ”Dubai Stopovers”. Menurut Vice President Arabian Adventure Frederic Bardin, ini ditujukan bagi mereka yang dalam perjalanan lintas benua ingin singgah di Dubai. Cukup 65 dollar AS, mereka bisa mampir ke kota itu lengkap dengan akomodasi hotel, antar-jemput ke bandara, dan bebas biaya visa empat hari.
Setahun sekali, sejak tahun 1996, Dubai juga menggelar Dubai Shopping Festival sebulan penuh, tanggal 4 Januari-4 Februari. Festival tahunan itu biasanya menyediakan hadiah spektakuler, seperti mobil mewah Rolls Royce atau berkilo-kilogram emas.
Media internasional menjuluki kota itu dengan ragam sebutan: ”Las Vegas-nya Arab” (Newsweek), ”Singapura-nya Timur Tengah” (Time), ”Singapura-nya Arab” (New York Times), atau ”Dunia impian Arab” (The Economist). Seperti bunyi iklan di perempatan City Centre Deira, mereka pun percaya diri untuk berkata, ”Forget London, Now in Dubai….” (SAM)
Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

Entry filed under: ASIAN. Tags: .

Dubai, Surga Wisata di Negeri Teluk Cape Town, Eksotisme Afrika

3 Comments Add your own

  • 1. iwant  |  July 14, 2009 at 6:38 am

    kemboo

    Reply
  • 2. tyas  |  September 12, 2009 at 4:26 am

    dubai, merupakan surganya dunia, cpa saja pasti ingin kesana

    Reply
  • 3. Jery  |  November 7, 2009 at 11:27 am

    kapan yah bisa ke negara ini😦
    takjub bgt deh…!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: