Lucerne, Wajah Asli Swiss

July 26, 2007 at 10:38 pm Leave a comment

Lucerne – ”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota kota di Swiss itu. Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan.Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini. Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan. ”Karena perang Irak dan juga sars, tahun ini turis yang datang tidak makin banyak,” tutur Angela Kaufmann dari kantor statistik kota ini. Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina. Desa Nelayan Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang. Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja. Namanya juga hobi, kendati hanya belasan ekor jumlahnya, tetap saja orang sini nekad memamerkannya. Memelihara ayam dan kelinci memang sebuah hobi yang sangat tipikal Swiss, seperti mengelus-elus keelokan perkutut bagi masyarakat Jawa.Jejak Mark TwainAda beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini. Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda. Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya. Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala. Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini.MuseumJika tertarik dengan benda kuno atau lukisan, Lucerne juga menyediakan tempatnya. Puluhan museum berada di kota ini. Namun yang paling menarik adalah Museum Transportasi dan Museum Pablo Picasso, pelukis aliran kubisme asal Italia. Museum Transportasi paling sesak dijubeli turis karena memang koleksinya paling lengkap dan besar. Namanya juga Museum Transportasi, isinya ya kendaraan, terutama kereta api di Swiss. Sementara Museum Pablo Picasso menyerap turis yang ingin menyaksikan lukisan serta foto-foto sang maestro semasa hidup. Selain tempatnya yang berada di jantung kota, museum ini juga terawat dengan sempurna.Bosan dengan museum atau suasana kota Lucerne, silahkan menikmati panorama Danau Lucerne. Banyak jadwal kapal yang akan mengangkut Anda untuk menikmati Danau Lucerne. Tinggal datang saja ke dermaga utama yang berada di dekat stasiun kereta api Lucerne ini, sejarak selemparan batu, dermaga itu sudah terlihat.Sementara bagi yang ingin menikmati keindahan Lucerne dari tempat yang agak luas, bisa memilih tur atau jalan sendiri ke Gunung Pilatus atau Gunung Rigi. Dua gunung ini sangat terkenal di Lucerne. Bahkan ada idiom jangan mengatakan pernah ke Lucerne jika belum pernah mencapai kedua puncak gunung itu.Namanya memang puncak gunung, tapi masyarakat Swiss sangat pintar untuk membuat sebuah tempat terpencil menjadi sangat gampang dijangkau. Maklum, ada kereta kabel gantung yang siap membawa turis ke kedua puncak gunung ini. Memang ada juga kereta biasa menuju ke kedua puncak itu, namun kereta ini akan tutup selama musim salju. Sementara kereta kabel gantung beroperasi sepanjang musim. Penulis Amerika Mark Twain yang pernah singgah di puncak kedua gunung ini, konon bisa sampai ke puncak dengan cara dipanggul di punggung orang lain. Maklum saja, zaman itu memang siapa saja yang ingin ke puncak Rigi atau Pilatus mesti jalan kaki, kecuali Mark Twain.

Sumber: Sinar Harapan 2003.

Entry filed under: EUROPE. Tags: .

(Wisata Kota Weimar) Asal Muasal Republik Jerman Dari Atraksi Sulap Hingga Tajil Istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: