Intramuros di Metroplitan Manila, Kota Tertua Penuh Sejarah

July 26, 2007 at 3:48 pm Leave a comment

GERIMIS mengguyur Intramuros, ketika taksi yang membawa saya dari Quezon City berhenti di depan Gedung Biro Imigrasi Filipina, beberapa waktu lalu. Udara dingin menyergap dan angin menyapukan butiran air yang lembut ke wajah.
Kesejukan merupakan hadiah tahunan bagi penduduk di kawasan Metropolitan Manila. Lamanya hanya satu setengah bulan saja dalam satu tahun. Dimulai pada pertengahan Desember atau awal Januari. Berakhir pada pertengahan Februari atau awal Maret. Setelah itu Metro Manila akan kembali hangat. Suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius antara April sampai Desember.
Bukan perjalanan yang menyenangkan untuk bisa mencapai Intramuros. Dari Quezon City, lama perjalanan bisa mencapai dua jam karena lalu lintas macet di mana-mana. Sering saya lupa, kalau saya berada di Metropolitan Manila, tempat para pengemudi kendaraan terburuk di dunia.
Saya berdiri di tepi jalan Intramuros. Menikmati udara dingin dan air gerimis yang jatuh di wajah. Di hadapan sebuah patung patron saint bernama Felipe di perempatan Fabildo Street dan A. Soriano Avenue, untuk memulai jalan-jalan di hari kerja.
Menyeberang jalan, saya jambangi restoran Max’s di A. Soriano Avenue, untuk sarapan dengan ayam goreng, chop suey, nasi, dan segelas lemon tea.
Sambil makan di tempat itu, pikiran menerawang, membayangkan Intramuros di masa lalu. Intramuros adalah salah satu kota tertua di Filipina. Kini, tempat itu hanya menjadi sebuah distrik saja di wilayah Manila City.
Berasal dari bahasa Spanyol “intra muros”, yang berarti “di dalam benteng”. Kota itu berdiri pada abad 14 dan kini Intramuros penuh sesak oleh sejarah.
Ada kisah tentang gemuruh teriak kemenangan di sini. Ada juga yang meratapi kekalahan. Ada pembunuhan seorang pejuang. Ada pembantaian keji dalam jatuh bangunnya kota ini.
Tembok benteng kota, yang dibangun Spanyol sebagai pagar pertahanan, masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kini benteng itu menjadi pemisah distrik Intramuros dari distrik lainnya di Manila City.
Bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun masih berdiri kukuh di situ. Nyaris seluruhnya dibangun oleh Spanyol sejak abad 15. Gedung-gedung itu, sekarang digunakan oleh pemerintah menjadi kantor biro atau departemen. Sebagian lagi dimiliki privat, dijadikan toko, hotel, restoran, rumah gadai, dan bank.
Berbeda dengan bagian lain di Metropolitan Manila yang terasa profan, di Intramuros suasananya lebih religius dan menggoda imajinasi untuk menerawang ke masa lalu, ketika terjadi berbagai penaklukan antarbangsa.
Ketika Intramuros ramai oleh tabuhan genderang perang, denting suara pedang, desingan peluru, dan dentuman meriam. Ketika aroma darah dan mesiu berpadu menjadi satu. Ketika fondasi kota ini dibangun dan bangunan-banguan tinggi mulai berdiri. Ketika hari demi hari kota ini menciptakan sejarah dan romantisme bagi penduduk dan pengunjungnya.
**
Gerimis berhenti, tapi angin mulai berhembus kencang saat saya memasuki benteng itu. Fort Santiago. Benteng pertahanan terakhir penduduk asli beragama Islam di Manila, dari serbuan bangsa Spanyol.
Benteng itu, sekarang menjadi jantung kegiatan wisata di Intramuros dan halamannya dihiasi taman penuh bunga. Lima ratus tahun ke belakang sampai pertengahan 1945, bau darah dan mesiu menyengat kawasan ini.
Fort Santiago awalnya terbuat dari kayu dan tanah, dibangun pada pertengahan 1500. Benteng itu dibangun saat masa kepemimpinan Rajah Sulayman, pemimpin masyarakat Melayu muslim di sekitar kawasan yang bernama Maynilad, yang artinya tempat di mana tanaman air berbunga seperti bintang tumbuh. Kata Maynilad kemudian berubah menjadi Manila.
Tahun 1570, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Martmn de Goiti, Juan de Salcedo, dan Miguel Lspez de Legazpi, datang ke Manila dan menyerang masyarakat muslim. Tahun 1571 pasukan Spanyol menang perang dan menjadikan Manila sebagai pusat pemerintahan kolonialnya. Spanyol terus melakukan pendudukan hingga menguasai nyaris seluruh wilayah Filipina sekarang.
Tidak hanya aneksasi wilayah yang terjadi, tapi juga aneksasi terhadap budaya dan kebiasaan. Spanyol berhasil membuat penduduk asli yang muslim beralih menjadi Katolik.
Hanya wilayah kepulauan bagian selatan yang terus bergolak dengan pemberontakan. Pergolakan di wilayah selatan bahkan terus berlangsung hingga saat ini.
Sebagian memberontak dan terus mempertahankan identitasnya sebagai muslim, sebagian lagi memberontak karena ingin mendirikan negara komunis.
Karena pergolakan yang terjadi sampai sekarang itu pula, orang muslim selalu dicurigai di sebagian wilayah Filipina, terutama di Manila. Jika ada orang Filipina yang memiliki nama muslim seperti Abdullah atau Ahmad, kecil kemungkinan dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di perkantoran.
Itu sebabnya pula, menurut seorang pengajar di Ateneo de Manila University, banyak orang Islam Filipina yang mengubah namanya menjadi berbau barat seperti Daniel, Michael, atau Jack, hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada pula yang salah paham dan malu dengan identitasnya sebagai muslim. Masih kata pengajar tadi, ada orang yang ditanya, apakah dia beragama Islam? Dia menjawab, “Ya.” Ibumu beragama Islam? Dia menjawab, “Ya.” Bapakmu beragama Islam? Dia menjawab, “Ya.” Jadi kamu Muslim? Dia menjawab, “Bukan, saya orang Filipina.”
**
Setelah menang perang, penguasa kolonial Spanyol memberi nama tanah jajahan barunya itu sebagai Philippine, diambil dari nama dan dipersembahkan untuk Raja Philip II, lelaki yang menjadi penguasa Kerajaan Spanyol saat itu.
Benteng bekas pertahanan Rajah Sulayman dibangun kembali. Kali ini dibangun dari batu. Mulai dibuat pada 1589 hingga 1592. Benteng itu diberi nama Santiago. Tapi hancur lagi pada 1645, oleh gempa bumi. Penguasa kolonial Spanyol memperbaiki kembali pada 1658 dan memperkuat struktur benteng pada 1663.
Hampir seratus tahun kemudian, pasukan Inggris datang menyerang, membabat habis angkatan laut Kerajaan Spanyol. Mereka merebut Filipina dari Spanyol pada 1762.
Fort Santiago dijadikannya sebagai pusat komando. Dua tahun kemudian, Filipina dikembalikan lagi kepada Spanyol. Pada 12 Juni 1898, bangsa Filipina menyatakan kemerdekaannya dari Spanyol, setelah penguasa kolonial itu kalah perang dari Amerika Serikat.
Tapi mereka tidak tahu, di tahun yang sama Spanyol menandatangani perjanjian damai dengan Amerika di Paris, Perancis.
Berdasarkan kesepakatan yang tercantum di Paris Treaty, Spanyol setuju untuk menjual seluruh kepulauan Filipina, beserta Guam dan Puerto Rico kepada Amerika, hanya seharga 20 juta dolar saja. Perjanjian itu ditandatangani pada 10 Desember 1898.
Lalu pasukan kolonial Amerika datang untuk menduduki kepulauan yang telah dibelinya. Bangsa Filipina, yang baru menikmati kemerdekaan selama tujuh bulan, kembali takluk di bawah kaki kolonial. Fort Santiago dan seluruh wilayah Intramuros, dijadikan sebagai pusat komando pasukan Amerika di Filipina.
Beberapa dekade kemudian, pasukan Kekaisaran Jepang menghancurleburkan pertahanan Amerika di Filipina dan merebut kepulauan itu pada 1942. Fort Santiago kembali berpindah tangan. Kali ini dari penguasa berkulit putih ke penguasa berkulit kuning. Bangsa taklukan berkulit cokelat tak bisa berbuat banyak dan kekejaman terhadap mereka tak juga berhenti.
Hanya tiga tahun Jepang menduduki Filipina. Tapi, seperti yang juga dialami oleh bangsa Asia lainnya, penderitaan selama tiga tahun itu sungguh tak terperi. Penyiksaan dan pembunuhan nyaris terjadi setiap hari di kamar-kamar bawah tanah di Fort Santiago.
Di akhir masa pendudukannya di Filipina, sekitar bulan Februari 1945, pasukan Jepang menangkap dan memenjarakan tak kurang dari 600 orang Filipina dan Amerika di Fort Santiago.
Ketika Fort Santiago kembali direbut pasukan Amerika, 600 orang itu telah tewas terbantai. Mayat mereka ditemukan di ruang-ruang bawah tanah sebuah gedung, di dalam lingkungan Fort Santiago. Nama gedung itu Baluarte de Santa Barbara.
Fort Santiago dan Intramuros, tak mungkin dilupakan oleh orang Filipina. Karena di tempat itulah seorang lelaki yang dianggap sebagai pembebas bangsa Filipina dipenjarakan dan akhirnya dihukum mati.
Dia adalah Josi Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda (19 Juni 1861-30 Desember 1896), atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Jose Rizal, intelektual dan pentolan kelompok rahasia penganjur kemerdekaan, “Katipunan.”
Jose Rizal lulusan dari Ateneo Municipal de Manila (sekarang berubah menjadi Ateneo de Manila University), sebuah perguruan tinggi yang dijalankan dan dibiayai oleh kelompok Jesuit.
Sejak masih duduk di bangku kuliah, Jose Rizal selalu gelisah melihat ketidakadilan pemerintah kolonial Spanyol. Dia mengembara ke Eropa, menguasai 10 bahasa asing, meraih gelar doktor di University of Paris dan University of Heidelberg, mengabdi sebagai dokter di Kuba, lalu kembali ke Filipina, untuk memberi pencerahan kepada masyarakatnya.
Dia rajin menulis artikel dan novel, juga membuat patung. Dua novelnya yang terkenal adalah “Noli me Tangere” dan “El Filibusterismo”.
Semuanya ditulis dengan nama samaran. Isinya: kritikan pedas terhadap korupsi, yang dilakukan pejabat kolonial dan petinggi gereja Katolik di Filipina. Patung karyanya yang sampai sekarang masih ada berjudul “The Victory of Science Over Death.”
Pada 3 November 1896, Jose Rizal ditangkap dan dipenjarakan di Fort Santiago. Gedung tempat Rizal ditahan, kini diberi nama “The Shrine of Rizal.”
Pagi hari tanggal 29 Desember 1896, Jose Rizal dihadapkan ke pengadilan kolonial. Tuduhan yang diajukan kepadanya, adalah pemberontakan, penghasutan, dan membentuk perkumpulan terlarang. Hakim menyatakannya bersalah dan menjatuhinya hukuman mati.
Jose Rizal kemudian dibawa ke sebuah kapel di gedung penjara Fort Santiago. Dia ditahan di kapel itu sampai esok harinya. Pagi hari, 30 Desember 1896, Rizal dibawa keluar dari ruang penahanannya. Dia digiring oleh sepasukan tentara Spanyol, keluar dari Fort Santiago menuju Luneta, Bagubayan Field, Manila. Tepat jam 7.03 pagi, Rizal ditembak mati oleh pasukan eksekutor. Di hadapan masyarakat yang berbondong menontonnya.
Sejak eksekusi itu, pemerintah kolonial Spanyol melarang nama Jose Rizal untuk diucapkan oleh orang-orang Filipina. Karena larangan itu, orang-orang Filipina menggunakan sandi “Dia yang Telah Mati” saat mereka membicarakan tentang Rizal. Baru setelah 12 Juni 1898 nama Jose Rizal diagung-agungkan sebagai pahlawan nasional.
Sekarang, pengunjung Fort Santiago bisa melakukan napak tilas Jose Rizal menuju kematian. Pengelola Fort Santiago sengaja membuat tapak-tapak kaki terbuat dari kuningan, yang ditempel di atas jalan beraspal. Tapak kaki itu bermula dari “The Rizal Shrine” hingga pintu keluar kawasan wisata Fort Santiago.
Di “The Rizal Shrine” juga tersimpan koleksi benda-benda pribadi Jose Rizal. Satu koleksi yang paling menarik adalah potongan tulang rusuknya, yang bolong oleh tembakan peluru.
Tulang rusuk itu diambil, saat sisa tubuh Jose Rizal diangkat dari kuburannya yang pertama, untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
Pemindahan jenazah Rizal, dilakukan beberapa hari setelah bangsa Filipina memproklamirkan kemerdekaannya. Potongan tulang Rizal, kini disimpan di atas kap lampu minyak, di dalam sebuah kotak kaca, di lantai dua “The Rizal Shrine.”
Menikmati Intramuros saat ini adalah seni menikmati sejarah dan arsitektur kuno, sambil berjalan kaki di atas trotoar atau menggunakan kereta kuda di jalan raya yang terbuat dari batu akan terasa sangat mengasyikan.
Mungkin anda akan tertarik memasuki gereja-geraja tua seperti San Agustin Church. Atau gedung-gedung bersejarah seperti, Clamshell I (Old Ateneo), Plaza Santo Tomas, Plaza San Ignacio, Baluarte Plano Luneta de Sta. Isabel, Bahay Tsinoy/Kaisa Heritage Center, Plaza San Luis/Casa Manila/Hotel Intramuros, Baluarte de San Diego and Gardens, dan Baluarte de San Gabriel.
Duduklah sesaat di Plaza de Roma, sambil menikmati kemegahan Manila Cathedral di Postigo Street. Rasakan betapa tenangnya suasana kota itu. Atau berjalan kakilah menyusuri General Luna Street sampai ke perempatan Victoria Street.
Singgah dan rasakan suasana masa lalu di sekitar perempatan Real Street dan perempatan Sancta Potentiana Street, yang jalannya masih tetap berupa susunan batu tanpa aspal.
Intramuros memang berbeda. Dibandingkan dengan Quezon City atau Manila City misalnya. Di dua kota itu, orang-orang akan lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat di mana dunia menjadi gemerlap.
Tempat masrat untuk berhura-hura bisa disalurkan. Tapi ada sesuatu yang khas yang menjadi benang merah di wilayah Metropolitan Manila: kota itu penuh dengan perempuan cantik.

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 18 Mei 2007.

Entry filed under: ASIAN. Tags: .

Cape Town, Eksotisme Afrika Dua Havana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: