Dubai, Surga Wisata di Negeri Teluk

July 26, 2007 at 10:08 am Leave a comment

Baca Pula:
Forget London now in Dubai
MH SAMSUL HADI
Empat hari menyusuri ratusan kilometer jalan yang mengiris-iris kota Dubai, kota kedua di Uni Emirat Arab setelah Abu Dhabi, bukan hamparan padang pasir yang terbentang. Yang menonjol justru gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel mewah, mal-mal, dan berbagai arena wisata.
Inilah kota kosmopolitan baru di Asia yang berambisi menyaingi Singapura dan Hongkong sebagai destinasi utama.
”Ini kunjungan pertama Anda ke Dubai?” begitu sapa banyak orang kepada kami, tiga wartawan cetak dan dua wartawan televisi dari Indonesia, selama berada di kota tersebut. Sapaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan obrolan pembuka untuk membicarakan suasana kota Dubai saat ini.
Kota seluas 4.114 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 1,071 juta jiwa (tahun 2004) itu tidak hanya membuat decak kagum para pendatang, tetapi juga mencengangkan penduduk setempat. Mereka seperti tidak percaya, Dubai berubah secepat ini: dari hamparan padang pasir di pinggiran Teluk Arab menjadi bangunan-bangunan beton menjulang ke angkasa.
Itu terlihat jelas, terutama di sepanjang Sheikh Zayed Road dari Pelabuhan Jebel Ali di ujung selatan Dubai hingga kawasan Deira di bagian utara kota itu. Seolah tidak ada batas ambisi untuk menyulap Dubai menjadi kota kosmopolitan dunia, pembangunan properti terus berlangsung secara fantastis.
Burj Dubai, gedung pencakar langit setinggi 700 meter untuk 189 lantai, akan menjadi bangunan tertinggi di dunia. Saat kami mengunjungi lokasi itu, 14 Maret, pembangunannya sampai pada lantai 33. ”Satu lantai rata-rata selesai dalam lima hari. Burj Dubai diperkirakan selesai tahun 2009,” ujar Greg Sung, salah satu insinyur dalam proyek pembangunan gedung tersebut.
Bukan itu saja, ribuan hektar pantai Teluk Arab direklamasi untuk dibangun kawasan resor seperti pulau artifisial, yakni Palm Island (Jebel Ali), Palm Island (Jumeirah), Palm Island (Deira)—ketiganya menyerupai pohon palem yang konon bisa terlihat dari Bulan seperti halnya Tembok Raksasa China—dan The World (250 pulau buatan berbentuk peta dunia).
Fantasi Dubai pada hal-hal spektakuler masih berlanjut dengan dibangunnya Hydropolis, hotel di bawah laut pertama di dunia pada kedalaman 20 meter dan berjarak 300 meter dari pantai. Ini melengkapi kemewahan Dubai yang sejak tahun 1999 terwakili dengan berdirinya Hotel Burj Al Arab, hotel tertinggi di dunia (321 meter) yang melebihi tinggi Menara Eiffel di Paris, Perancis.
”Mereka yang tinggal di sini, lalu pergi dua tahun saja, begitu kembali ke Dubai, akan terkejut karena gedung-gedung bermunculan. Waktu menyetir, kadang-kadang saya berpikir, dari mana munculnya gedung-gedung itu,” ujar Clive Reed, Vice President Training and Development Emirates, yang sudah lama tinggal di Dubai.
Pembangunan proyek-proyek fantastis dan ambisius itu berpijak pada cita-cita menjadikan Dubai sebagai pusat turisme dunia, perdagangan, dan bisnis keuangan. Ambisi ini ditopang dengan pembebasan pajak (free tax) dan kebijakan langit terbuka (open-sky policy).
Menggarap turisme
Apa yang bisa dinikmati di Dubai? Dari brosur wisata Department of Tourism and Commerce Marketing Pemerintah Dubai, pariwisata di kota itu berusaha mengombinasikan warisan alam, kekayaan tradisional, dan karya arsitektur superfantastik.
Untuk wisata alam, Dubai menawarkan kekayaan lautan padang pasir, antara lain untuk menggelar reli mobil ala Paris-Dakkar plus suguhan tari perut sebagai penutup. Di kawasan Al Maha, mereka bangun resor eksklusif dengan menjual ketenangan dan ”keindahan padang pasir”.
”Anda bisa lihat, warna padang pasir itu berubah-ubah. Kadang-kadang merah, kadang-kadang kuning, kadang-kadang kehijauan. Pemandangan padang pasir itu bisa berubah tujuh warna,” kata Vaneet, warga India, sopir kami saat reli padang pasir di Saud Arabian Desert.
Kekayaan tradisional disuguhkan melalui wisata ”makan malam” di atas kapal tradisional (dhow dinner) dengan menyusuri Sungai Dubai, kampung tradisional (heritage village), museum yang didesain secara live menggambarkan Dubai tempo dulu, pasar emas tradisional (gold souk), serta pacuan unta.
Untuk wisata keindahan arsitek Dubai, wisatawan diajak mengagumi kemegahan gedung-gedung dan lokasi, seperti diungkap di awal tulisan ini. Tak ketinggalan, juga kawasan elite Jumeirah dengan ”hotel bintang tujuh” Burj Al Arab dan resor bergaya arsitektur mediterania dengan kanal memesona di antara rumah-rumah hunian.
Soal infrastruktur jalan, hal itu tak usah diragukan. Selama diajak berkeliling ke tempat-tempat wisata oleh Arabian Adventure—biro wisata milik maskapai Emirates—semua ruas jalan dalam kondisi mulus. Tak satu pun jalan berlubang atau tidak rata. Memacu mobil di atas kecepatan 120 kilometer per jam pun serasa tidak menapak bumi.
Jalanan kota Dubai semakin indah dengan hamparan bunga berwarna-warni di kiri-kanan jalan. Enaknya lagi, dengan kondisi jalan yang jauh lebih mulus daripada jalan tol Jakarta dan sekitarnya, pengendara tidak dikenai tarif tol.
”Tidak ada tarif tol di sini. Parkir di mal-mal atau hotel juga gratis. Hanya bayar kalau parkir di tempat parkir umum, dua dirham setelah dua jam,” kata Ali (26), warga Pakistan, sopir kami selama di Dubai. Dirham adalah mata uang Uni Emirat Arab (1 dollar AS = 3,67 dirham UAE).
Trotoar, terminal, halte, pasar, telepon umum, dan tempat-tempat publik lainnya sangat bersih. Sangat sulit menemukan ceceran kertas atau sampah plastik di kota yang 80 persen warganya berasal dari luar Uni Emirat Arab itu. Di beberapa ruas jalan, seperti di Jumeirah Street, terlihat trotoar jalan disemprot dengan air. Tidak cukup disapu!
Transportasi publik juga memadai. Selain bus yang semuanya dilengkapi alat pengatur suhu (air conditioner/AC), juga tersedia taksi-taksi dalam kondisi bagus yang bisa ditawar ongkosnya. Hampir semua taksi selalu menyiapkan kuitansi tanda pembayaran.
Angkutan sungai—biasa disebut abra—menjadi alat transportasi di Sungai Dubai (Dubai Creek) sepanjang 13 kilometer dengan lebar 100-500 meter. Ongkosnya cuma 50 pence atau setengah dirham. Meski juga dilalui kapal-kapal pengangkut barang dagangan, sungai itu tetap bening dan bersih. Tidak hitam, berbau, dan penuh sampah, seperti sungai-sungai di Jakarta.
Burung-burung camar pun kerasan bermain-main di permukaan sungai tersebut, menambah keindahan pemandangan bagi pengguna abra. Yang terpenting lagi, keamanan dan kenyamanan tinggal di kota itu terjamin. ”Saya bisa jalan-jalan ke luar kapan saja dengan aman, di malam hari sekalipun,” ujar Sheba Koonan, perempuan asal India, Media Relations Manager Emirates.
Kawasan Timur Tengah yang satu ini memberikan toleransi yang cukup leluasa bagi turis untuk ”tampil apa adanya”. Di mal-mal sering terlihat perempuan mondar-mandir sambil merokok, sementara di Pantai Jumeirah turis laki-laki dan perempuan membaur saat berjemur—tentu saja—dengan bikini.

Kebijakan langit terbuka
Saat ini turisme menjadi salah satu sektor andalan Dubai. Kesadaran itu sudah lama muncul, terutama setelah cadangan minyak di kota itu menipis. Minyak dan gas di Dubai, yang ditemukan tahun 1966, kini hanya menyumbang 6 persen pendapatan domestik bruto (PDB) kota itu dan akan habis kira-kira sepuluh tahun lagi.
Untuk menggenjot angka kunjungan turis, Dubai mengeluarkan berbagai kebijakan, antara lain kebijakan langit terbuka. ”Tidak ada batasan bagi maskapai penerbangan untuk datang dan pergi dari Dubai, menurunkan dan menaikkan penumpang, kapan saja,” kata Frederic Bardin, Vice President Arabian Adventure.
Tahun 1985 Dubai membangun maskapai penerbangan sendiri, Emirates. Kini, 21 tahun setelah berdiri, Emirates dengan 90 pesawat menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia dengan melayani penerbangan ke 81 kota dari 56 negara. Dua hal itu berdampak signifikan bagi kunjungan wisata ke Dubai.
Tahun 2005 sebanyak 24,7 juta penumpang singgah di Dubai; 5,5 juta penumpang di antaranya sengaja datang berekreasi di kota itu. Tahun ini angka penumpang yang singgah di Dubai diperkirakan melonjak lebih dari 28 juta penumpang dan tahun 2010 menjadi 60 juta penumpang.
Sementara angka kunjungan turis ditargetkan melonjak tiga kali lipat pada tahun 2015 atau sekitar 15 juta turis. Itu sudah diantisipasi dengan pembangunan tahap II Bandara Internasional Dubai dengan kapasitas menampung 70 juta penumpang per tahun.
Membangun berbagai infrastruktur, menyiapkan bandar udara yang memadai, dan menciptakan kemudahan, ini semua untuk menunjukkan: Asia bukan hanya Singapura dan Hongkong, tetapi juga Dubai.
Baca Pula:
Forget London now in Dubai
Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

Entry filed under: ASIAN. Tags: .

Gambaran Kehidupan Damai Lupakan London……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: