Dari Atraksi Sulap Hingga Tajil Istimewa

July 26, 2007 at 11:11 pm Leave a comment

”Ngabuburit” di Kota Marakesh

Oleh H.Usep Romli HM
“NGABUBURIT” alias menunggu waktu berbuka puasa, ternyata bukan hanya di Indonesia. Di Marakesh, sebuah kota tua di Kerajaan Maroko, Afrika Utara, juga sama.
Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, sore hari beramai-ramai berkumpul di pusat kota. Terutama di sebuah lapangan luas, atau alun-alun, yang berada di dekat Masjid Kutubia, masjid jami terbesar di Marakesh.
Di situ, para pejalan kaki, pedagang kaki lima, serta para penyaji berbagai atraksi, berkumpul hingga keadaan hiruk-pikuk. Suara teriakan, obrolan, nyanyian, berbaur dengan tabuhan bermacam-macam alat musik pengiring aneka ragam pertunjukan. Ada sulap, akrobat, badut, dan banyak lagi. Semuanya menarik untuk ditonton.
Para penyaji atraksi “seni rakyat” tersebut, bukan hanya penduduk asli Marakesh, atau berasal dari kota-kota lain di Maroko, seperti Rabat, atau Casablanca. Tapi juga dari luar negeri. Antara lain; Senegal, Mauritania, Nigeria, Tunisia, Aljazair. Pokoknya multietnis dan multibangsa.
Yang paling banyak mendapat perhatian adalah tukang sulap. Menggunakan tambang katun, rotan, ular kobra hidup dan peti kayu tertutup kain hitam.
Menggunakan keahlian memainkan tangan dan kepasihan, tukang sulap itu mengubah tali atau rotan menjadi ular kobra. Begitu pula sebaliknya, ular dimasukkan ke dalam peti dan keranjang, sudah berubah menjadi tali.
Sesekali pesulap meminta penonton menebak, apakah yang ada dalam peti, ular atau Tali. Baik ular asli, atau ular “kajajaden” yang semula tali, dapat melakukan tarian meliuk-liuk, mengikuti irama “terebang” yang dipadukan dengan suara terompet. Mirip seni “nagin” di India.
Sesekali pesulap, meminta penonton memasukan tangan ke dalam peti. Banyak yang menolak, karena takut yang teraba ular betulan. Ada satu dua orang yang berani mencoba. Ternyata yang terpegang seutas tambang atau rotan.
Tapi tak jarang pula memegang ular ! Sehingga orang tersebut terkejut. Melompat ke belakang, tak peduli jejeran rapat penonton lain, yang tertawa dan bersorak-sorai menyaksikan kejadian lucu itu.
Terdorong rasa penasaran, penulis pernah mencoba menanyakan, apakah atraksinya itu sulap atau sihir ? Pemain sulap asli Marakesh itu, menjawab sambil tersenyum, mungkin sulap, mungkin saja sihir. “Anda tahu, negara kami dinamakan Maghribi. Sejak dulu terkenal dengan sihirnya, sihir Maghribi,”jawabnya penuh gurau.
Maghribi adalah sebutan populer Maroko di kalangan masyarakat Arab, karena letaknya berada di ujung barat laut benua Afrika. Sedangkan Marakesh, merupakan kota ketiga terbesar di Maroko, setelah metropolitan modern Casablanca, dan ibu kota Rabat.
Berada di lereng barat daya Pegunungan Atlas, kira-kira 150 km sebelah selatan Rabat. Karena cukup jauh dari ibu kota, Marakesh kadang-kadang terlewat dari agenda perjalanan wisata singkat.
Padahal Marakesh sangat kaya oleh peninggalan sejarah, karena pada abad ke-11 pernah menjadi ibu kota Kerajaan Maghribi Dinasti Murabitun. Sebuah dinasti Arab-Berber (Afrika Utara) yang pernah melahirkan penguasa-penguasa Andalusia (Spanyol) ketika berada di bawah kekuasaan umat Islam (750-1492).
Jejak-jejak kejayaan masa lalu Murabitun, masih tampak pada pasar tradisional yang menonjolkan nuansa budaya Berber, warung-warung penjual manisan khas Pegunungan Atlas, bangunan-bangunan tempat membuat gerabah “keramik biru” yang amat dikagumi penggemar pernik-pernik hiasan rumah, gerbang-gerbang kota yang kokoh dilengkapi pintu besi, menara-menara terbuat dari batu bata merah setengah jingga.
Bangunan-bangunan kuno yang masih terpelihara utuh, di antaranya Menara Kutubia bersama masjid jaminya, gerbang tua Babul Aquino, Souqul Madina (pasar kota).
Biro-biro wisata di Rabat atau Casablanca selalu mempromosikan Marakesh sebagai pusat seni budaya Arab Berber khas Afrika Utara yang masih bertahan dari serbuan modernisasi.
Di “Souqul Madina” umpamanya, bebagai corak perhiasan logam dari emas, platina, perunggu, kuningan, dan tembaga, menjadi ikon cendera mata.
Juga wangi-wangian yang dikemas dalam wadah-wadah unik menarik, baik botol kaca maupun keramik, menebarkan aroma parfum alam yang bersumber dari bunga-bungaan, rumput atau daun-daunan dan kayu-kayuan asli Pegunungan Atlas.
Sesak padat suasana pasar tak terasa berkat semilir angin dari lubang-lubang di atas atap tinggi. Ditambah denting mandolin dan gambus, mengiringi dendang lagu-lagu padang pasir.
Jika matahari sudah terbenam, acara “ngabuburit” yang riuh rendah mendadak sepi. Alun-alun Marakesh menjadi kosong karena semua orang berbondong-bondong ke masjid Kutibia, untuk ikut menyantap hidangan future (tajil) istimewa, berupa air teh campur bubuk “kardamon” (kapol) serta buah kurma segar setengah matang.
Usai salat magrib, baru berbuka makanan pokok yaitu “couscous” sejenis keripik terbuat dari gandum, dicelupkan ke kuah gulai daging kambing atau unta yang gurih berminyak. Menu utama ini, didampingi “kebab” berbentuk keratan daging ditusuk seperti sate.
Bumbunya terbuat dari tumbukan kacang tanah , kecap kental, perasan jeruk nipis. Disediakan pula yoghurt dicampur irisan tomat dan bawang merah, jika penyantap “kebab” menginginkan rasa dan selera lain.
“Ngabuburit” di Marakesh, memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi wisatawan yang cuma lewat semalam dua malam di kota kuno bersejarah itu.
Penulis, pemerhati wisata Timur Tengah)

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 20 Oktober 2006.

Entry filed under: AFRICA. Tags: .

Lucerne, Wajah Asli Swiss Taman-taman Nasional, Wisata Andalan AS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: