Bentang Ladang di Poros Brussels-Paris (Perjalanan di Eropa)

July 26, 2007 at 10:16 pm Leave a comment

Putu Fajar Arcana
Kami tiba di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda, pada Kamis (16/11) kira-kira pukul 07.00. Cuaca di musim dingin membuat pagi seperti terlambat. Selama pesawat menuju terminal kedatangan, dari jendela terlihat lampu-lampu kendaraan di jalanan. Amsterdam tengah memulai kesibukan lagi meski gelap belum sepenuhnya berlalu. Pada pertengahan November, daratan Eropa (Belanda, Belgia, Luksemburg, Jerman, dan Perancis—negara-negara yang akan saya kunjungi) tengah memasuki musim dingin.
Rombongan dari Sanggar Bajra Sandhi dan delegasi Bali Tourism Board, ditemani Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Hubungan Antarlembaga Firmansyah Rahim serta Deputi Bidang Koordinasi Agama, Budaya, dan Pariwisata Menko Kesra Risman Musa, memilih Kota Brussels, Belgia, sebagai home base selama berada di Eropa. Brussels tak hanya terletak di jantung Eropa, tetapi juga menjadi ibu kota berbagai institusi penting, seperti Komisi Eropa dan Parlemen Eropa serta NATO.
Sepagi itu, menurut ukuran kami, Bandara Schipol sibuk bukan main. Tak sampai selang lima menit, pesawat dari berbagai belahan dunia mendarat atau lepas landas dari sini. Ketika kami keluar dari terminal kedatangan dan menuju area parkir, transportasi umum seperti bus juga bergerak tak henti. Bus yang akan membawa rombongan dari Schipol menuju Brussels dikendarai seorang berdarah Belgia, yang kami kenal bernama Bruno.
Persoalan “kecil” menghadang ketika rombongan Bajra Sandhi akan mengeluarkan seluruh peralatan pentas, seperti gamelan, pakaian, serta instrumen pentas lain yang beratnya mencapai puluhan ton. Petugas-petugas pabean di Schipol memang seramnya bukan main. Jelas mereka tak bisa diajak kompromi. Beruntung dalam rombongan turut serta Al Purwa yang menjadi konsul kehormatan untuk Kerajaan Belanda dan Belgia di Bali. Dengan bahasa Belanda yang fasih, ia menceritakan bahwa seluruh peralatan itu untuk kepentingan pentas dalam rangka menjalin persahabatan Belanda dan Indonesia (Bali).
Diplomasi itu terbukti cukup ampuh. Mungkin karena orang Belanda menyimpan rasa malu terhadap “perilaku” leluhur mereka terhadap Indonesia di masa lalu. Namun, itu cuma dugaan saya.
Menuju Belgia
Kira-kira dalam waktu satu jam, kami sudah melaju di jalan bebas hambatan (dan ini perlu diketahui tak ada jalan tol yang bayar di Eropa) menuju Brussels. Perjalanan ke Brussels ditempuh dalam waktu tak kurang dari tiga jam. Terhamparlah lanskap khas negeri subtropik.
Yanti, salah seorang pemandu kami yang anak seorang diplomat di Belgia, menginformasikan bahwa tahun ini musim dingin sedikit terlambat. Maka, di sepanjang sisi jalan pohon-pohon belum sepenuhnya menggugurkan daunnya. Masih tampak pucuk-pucuk berwarna coklat tua, semak belukar kekuningan, daun-daun yang memerah, serta hamparan rerumputan yang hijau. Sepintas tadi di Schipol, saya melirik penunjuk suhu menunjukkan angka 10 derajat Celsius. Cukup dingin untuk ukuran orang-orang dari daerah tropis.
Sebelum Al Purwa menyambar mikrofon di dalam bus, saya segera menandai bahwa sungguh mengagumkan, sepanjang highway ini ladang-ladang begitu luas menghijau. Dalam dingin cuaca dari kejauhan, saya melihat gerombolan sapi dan domba dibiarkan “liar” di atas padang rumput yang hijau.
“Pemerintah-pemerintah di Eropa, termasuk Belanda, sangat melindungi tanah-tanah pertanian. Dilarang keras mengubah lahan pertanian menjadi perumahan,” cerita Al Purwa. Ia menambahkan, petani di Eropa rata-rata memiliki lebih dari satu hektar tanah pertanian. “Dan yang menonjol, mereka membangun green house, maka pohon tropis pun bisa ditanam di sini,” katanya.
Dalam jarak ratusan kilometer yang ditempuh kira-kira dalam tiga jam perjalanan, kami hanya menemui bentangan ladang yang hijau. Pemandangan itu tak hanya di dataran-dataran negeri Kincir Angin, tetapi berlanjut sampai ke Belgia. Sejak Uni Eropa terbentuk, hampir tak ada tanda di perbatasan setiap negara. “Kalau jalanannya sudah kasar, itu tandanya kita sudah di Belgia,” kata Bruno. Kami kira tadinya ini pernyataan yang sinis. Ternyata, bus yang kami tumpangi memang lebih bergetar ketika melintas di permukaan jalan di negara Belgia ketimbang di Belanda.
Kehijauan yang luas
Kami menginap di Tulip Innm beralamat di Avenue du Boulevard 17, B-1210 Brussels, 16-27 November 2006. Dari Brussels seluruh perjalanan darat dimulai. Ketika bus bergerak menuju kota Garnich, Luksemburg, pada Jumat (17/11), diteruskan Sabtu menuju Sluiskil, Belanda, kemudian melaju ke Koln, Jerman pada Senin (20/11), dan terakhir ke Paris, Perancis, Selasa (21/11), pemandangan serupa menghampar di depan mata. Kehijauan seperti tak habis-habisnya.
Poros Brussels-Paris yang ditempuh dalam waktu tak kurang dari empat jam memperlihatkan pesona Eropa sejati. Diam-diam saya membayangkan Tanah Air yang (konon) penuh hamparan sawah hijau, dan karena itu masih dicap mengusung kultur agraris. Jangan salah, sawah hijau itu sebagian besar sudah bukan milik petani. Umumnya sawah di negara kita sudah menjadi milik para tuan tanah, yang kapan pun bisa mengalahfungsikan lahan pertanian menjadi perumahan. Tak jarang plang jalur hijau rontok diserobot nafsu membangun kota, yang konon juga demi mengejar pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, Eropa yang selama ini diberi label sebagai agen tumbuh dan berkembangnya kapitalisme “menyisakan” ladang-ladang yang mahaluas. Ladang-ladang itulah yang menjadi lumbung makanan selama ini. Maka, sungguh jarang kita dengar mereka kekurangan pangan. Sebaliknya, di negara kita, meski kaya sawah, di berbagai pelosok sering kali (dan ini berulang) terjadi kekurangan pangan. Bahkan, sering pula kita dengar banyak bayi yang kekurangan gizi….
Bukan hendak memuja Eropa, “Tetapi, kita mesti introspeksilah. Ini kan bukan negeri agraris, mengapa ladang mereka begitu luas?” begitu Firmansyah Rahim retorik dalam perjalanan Brussels-Sluiskil. Tentu dia juga kagum pada peradaban bangsa Eropa yang barangkali berabad- abad lebih maju dari kita. Bahkan, saya kira sangat muskil untuk disamai dalam waktu 10-20 tahun ke depan.
Perjalanan ini memang bukan hanya “pengembaraan” kesenian oleh Bajra Sandhi ke berbagai kota, melainkan juga perjalanan menyusuri peradaban. Sebuah peradaban yang benar-benar mengerti makna “adab” sebagai muara dari kehalusan, kebaikan budi pekerti, serta yang terpenting adalah tingkat kecerdasan yang tinggi.
Di hamparan padang rumput yang mahaluas itulah Eropa memperlihatkan keadabannya. Tidak saja pada peninggalan masa lalu berupa gedung bergaya gotik atau neoklasik, seperti terlihat di Paris, Koln, Garnich, dan Brussels. Tidak salah jika di sini kami merasa begitu “primitif”. Cuma satu hal yang bisa kita banggakan bahwa kita lebih santai dan lebih murah senyum ketimbang orang-orang Eropa yang selalu tampak serius dan marah….
Sumber: Kompas, Jumat, 15 Desember 2006.

Entry filed under: EUROPE. Tags: .

Dua Havana (Wisata Kota Weimar) Asal Muasal Republik Jerman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: