Velo’v, "Onthel" ala Lyon

July 25, 2007 at 11:47 pm Leave a comment

Oleh: Prasetyo Eko
Di kaki bukit Fourvière, Lyon, Perancis, yang di puncaknya berdiri sebuah basilika indah, Notre-Dame de Fourvière, berjejer rapi sekitar 20 sepeda yang terpasang pada sebuah stasiun atau rak parkir. Di salah satu ujung tempat parkir terdapat satu kotak mirip mesin anjungan tunai mandiri.
Seorang perempuan memasukkan sebuah kartu dan mulai memencet sejumlah tombol di mesin tersebut. Setelah itu, dia menghampiri salah satu sepeda, menariknya keluar dari rak, lantas menggenjot sepeda itu melaju di jalur sepeda yang telah disediakan.
Perempuan tersebut merupakan salah satu dari ribuan warga Lyon yang sedang menggunakan jasa Velo’v, salah satu moda transportasi kota Lyon, selain tramway, metro, dan bus, yang murah, sehat, dan hemat energi. Velo’v merupakan penyewaan sepeda otomatis ala Lyon yang menjadi salah satu cerita sukses pengembangan kota ini.
“Lyon ingin mengembangkan diri menjadi kota hijau yang ramah lingkungan, sehat, dan hemat energi. Salah satunya adalah dengan program Velo’v,” kata Endra Atmawidjaja, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar tentang urbanisme di Universitas Lumiere, Lyon.
Selain buat pejalan kaki, kota Lyon juga merupakan salah satu surga bagi para pengguna sepeda. Jalur khusus bagi sepeda tersedia di jalan-jalan kota. Menyusuri bagian kota tua Lyon yang dipenuhi bangunan kuno dan ditetapkan PBB sebagai salah satu situs warisan dunia memang lebih nyaman menggunakan sepeda.
Hal ini sudah pasti berbeda jauh dengan Jakarta yang, jangankan jalur sepeda, trotoar yang menjadi hak pejalan kaki saja secara sewenang-wenang dikuasai pengendara sepeda motor, dipenuhi warung, bengkel, dan lainnya. Meskipun pada beberapa tahun terakhir mulai muncul pencinta sepeda, seperti komunitas bike to work, tuntutan mereka untuk memiliki jalur sendiri di Jakarta layaknya busway masih menjadi impian.
Sejak diluncurkan tahun 2005, Velo’v telah menjadi cerita sukses. Pada Juni 2006, setidaknya terdapat 22.000 kali penyewaan per hari yang dilakukan oleh lebih dari 52.000 orang yang terdaftar sebagai pemakai. Velo’v sendiri merupakan sepeda yang didesain secara ergonomis agar nyaman dipakai, memiliki tiga tingkat kecepatan, serta keranjang untuk menaruh barang pengguna di atas roda depan.

Stasiun parkir
Selain di Fourvière, ada ratusan tempat lain di Lyon yang memiliki stasiun Velo’v, seperti di Gerland. Stasiun biasanya didirikan di tempat yang ramai dikunjungi warga.
Mulai awal tahun 2007, sepeda, yang pada awalnya hanya 1.500 unit, dan stasiun parkir direncanakan ditingkatkan jumlahnya. Sepeda akan ditambah menjadi 4.000 dan lebih dari 400 stasiun di seluruh penjuru kota. Diharapkan, dalam setiap jarak 300 meter akan ada satu stasiun Velo’v.
Velo’v memiliki sistem yang sederhana dan murah, yaitu menggunakan kartu prabayar. Untuk mendapatkannya, hanya dibutuhkan 1 euro atau Rp 12.000 untuk kartu dengan masa pakai selama satu pekan atau 5 euro untuk kartu dengan masa pakai satu tahun. Adapun untuk sewa sepeda, peminat hanya mengeluarkan sekitar 1 euro per satu jam dengan 30 menit pertama gratis.
Namun, untuk dapat menyewa Velo’v, pengguna harus memenuhi batas nilai kartu kredit minimum sebagai jaminan. Dalam praktiknya, menurut The Guardian, penggunaan Velo’v lebih banyak gratis karena sekitar 90 persen pengguna hanya melakukan perjalanan kurang dari 30 menit.

Canggih
Meskipun tak beda dengan sepeda biasa, mengandalkan tenaga manusia untuk menggerakkannya, sebenarnya sepeda Velo’v memiliki teknologi yang cukup canggih, yakni adanya komponen elektronik untuk identifikasi dan statistik yang rinci mengenai penggunaan sepeda tersebut.
Setiap kali sepeda dipasang di tempat parkirnya, sistem akan mengecek keseluruhan fisik sepeda, termasuk tekanan ban, lampu, dan rem, serta mengumpulkan data seperti jarak dan waktu pemakaian. Seandainya ada salah satu komponen rusak, sistem tidak akan mengizinkan sepeda tersebut disewakan sehingga pengguna tidak mungkin mengalami rem blong.
Untuk pembangunan Velo’v pihak kota bekerja sama dengan JC Decaux, sebuah perusahaan periklanan. Perusahaan ini menginvestasikan dan mengoperasikan Velo’v dengan imbalan mendapatkan hak untuk menjual lahan iklan di sejumlah moda transportasi lainnya. Tidak disebutkan berapa dana yang dibutuhkan untuk investasi Velo’v.
Kesuksesan Velo’v membuat sejumlah kota tertarik untuk mengaplikasikannya. Yang paling bersemangat adalah Amsterdam, yang disebut-sebut sebagai ibu kota sepeda dunia. Dengan sistem transportasi yang semrawut, jangan berharap ada Velo’v di Jakarta.

Sumber: Kompas, Kamis, 26 Juli 2007.

Entry filed under: EUROPE. Tags: .

Grajagan (G-Land) not just as a perfect wave, but as a perfect adventure. Melbourne dan Sydney, Dua Kota Tujuan Wisata Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: