Bekas Tembok Berlin, Kini Salah Satu Objek Wisata Menarik

May 29, 2007 at 12:31 pm Leave a comment

REUNIFIKASI atau penggabungan dua negara besar Jerman Barat dan Jerman Timur sudah berlangsung 16 tahun. Tak ada lagi persoalan rumit yang menjadi ganjalan antara keduanya, kecuali sekadar demo kelompok Neonazi yang mengingatkan kejayaan Hitler, setiap awal Mei. Itu pun tak perlu sampai mengakibatkan peristiwa berdarah-darah, apalagi ada yang meninggal. Tidak ada lagi batas wilayah yang dijaga ketat oleh tentara dengan senjata terkokang. Bahkan kini hanya ada satu Jerman yang jaya.
Namun begitu, sisa-sisa peristiwa dramatik berupa perpisahan dua negara tersebut, satu beraliran komunis di bawah bendera Uni Soviet dan satu lagi negara liberal demokratik Jerman Barat, masih abadi. Tembok Berlin, meski hanya sisa-sisa, masih berdiri kukuh. Pintu gerbang masuk yang menjulang, dengan patung Maria di atasnya, juga masih berdiri tegak.
Itulah Jerman. Indahnya kebersamaan, telah dirasakan mereka. Kini negara itu menjadi salah satu termaju di segala bidang. Kemajuan yang tidak pernah terjadi ketika mereka berpisah semenjak 1961, ketika masing-masing pemimpin negeri itu, memutuskan pilihan afiliasinya.
Jerman Timur memilih bergabung ke timur dan menjadikan Berlin sebagai ibukota. Sedangkan Jerman Barat yang beraliran liberal demokratis memilih Bonn sebagai ibukota negara. Tembok pun dibangun oleh pemerintahan Jerman Timur, sebagai pembatas. Siapapun yang mencoba melintasi, harus siap diberondong senjata, terkena peluru tajam, dan merelakan nyawanya melayang.
Perbandingan taraf hidup yang cukup menonjol menjadi salah satu penyebab warga yang ingin melompat ke wilayah lainnya. Begitu pula, keinginan bertemu sanak saudara, mendorong mereka nekad melompati tembok pembatas. Terutama yang berada di timur ingin melompat ke barat. Penjagaan ketat serdadu 24 jam, tak bisa disepelekan. Akibatnya hampir tidak pernah ada seorang pun yang lolos melintas. Dan sudah dipastikan nyawanya tak tertolong lagi.
Ribuan nisan menjadi saksi betapa kejamnya sebuah perbedaan, kini bisa ditemui di depan bekas tembok yang sudah dirobohkan. Betapa buasnya sebuah kepentingan, yang mungkin sebenarnya hanya dirasakan oleh para elite politik, namun tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat di bawah.
Jerman Barat tumbuh dengan pesat. Industri, kekayaan alam, teknologi, pendidikan, semuanya maju. Seakan kejayaan Hitler di masa lalu, hanya diwarisi oleh mereka saja. Karena itu wajar jika penduduk yang ada di wilayah timur, merasa iri. Kenapa mereka yang memiliki nenek moyang sama, tidak bisa menikmati kejayaan Hitler ? Kenapa mereka yang memiliki moto, senang dinikmati bersama, susah dirasakan bersama, ternyata hanya bisa kebagian susahnya saja ?
Karena itulah tidak ada pilihan lain, kecuali melompati pembatas, berburu manisnya gula di Jerman Barat. Namun, sekali lagi, nyawa yang selembar itu, seakan menjadi barang tak berharga, ketika pelor para tentara negeri beruang putih, tak pernah mau berkompromi. Dor ! Robohlah sang pelintas batas yang hanya bonek, berbekal nekat.
Sungai
Sungai Rhine, persis berada di sebelah tembok, seakan menjadi saksi mengucurnya darah merah sang pelintas. Sungai yang kini menjadi salah satu andalan wisata air di hampir seluruh negeri di Eropa, termasuk di Berlin, kala itu seolah selalu bersedih karena menyaksikan nyawa meregang.
Namun kini, segalanya telah berubah. Tahun 1989, seluruh rakyat bertekad untuk bersatu memulihkan persaudaraan sesama bangsa Arya. Seluruh rakyat di dua wilayah menyatukan langkah membangun persahabatan dan menciptakan persatuan.
Tahun itu pula, seluruh rakyat turun ke jalan, merayakan kemenangan, ketika tangan warga di sebelah timur diulurkan, mendapat sambutan dengan dekapan hangat penduduk di sebelah barat. Karena itulah di tengah sungai Rhine di pusat kota Berlin, terdapat beberapa patung orang berangkulan, simbol persahabatan, simbol persatuan sesama warga Jerman. “Kami bersaudara, kami bersatu.” Begitu, mungkin, teriak mereka.

SISA TEMBOK : Sisa tembok pembatas di Berlin yang kini menjadi ajang bagi penggemar grafiti untuk mencorat-coret secara artistik.

Secara bersama-sama, mereka meruntuhkan tembok yang selama ini menjadi momok menakutkan, yang memisahkan dua warga bersaudara tersebut. Seluruh anggota parlemen dua negara, beserta pemimpin mereka pun saling bergantian memberikan sambutan dan rangkulan bahagia. Tak ada lagi perbedaan antara bangsa timur dan barat. Bahkan, Berlin dijadikan ibu kota Jerman. Warga barat merelakan kota terbesar di timur itu sebagai kota utama mereka, karena di sanalah awal dimulainya sebuah persahabatan.
Para warga di barat pun merelakan saudaranya di timur untuk datang menuntut ilmu, melamar pekerjaan dan bergabung menikmati kemajuan. Mereka pun memaklumi ketika saudara mereka dari timur itu, untuk beberapa hal masih kalah jauh, dan perlu pembelajaran lagi.

Ilmuwan
“Dulu, kawasan ini sangat terbelakang. Bukan bermaksud membandingkan, namun perbedaannya terasa sangat jauh antara di barat dan timur. Karena itu, kami harus memaklumi ketika seluruh dana dari barat dicurahkan untuk membangun kota-kota di timur,” kata Dr Lothar Mahnke, profesor ekonomi dari Regionomica, Jerman, salah satu lembaga swasta yang menjadi konsultan pembangunan ekonomi kawasan Jerman.
Banyak potensi di kawasan timur, namun karena kondisi dan situasi politik yang ada, mengakibatkan segalanya tak bisa dimaksimalkan. Sebutlah Kota Dresden. Di kota itu, terdapat perguruan tinggi ternama. Ribuan ilmuwan dicetak di situ. Bahkan, di situ pula Marthin Luther menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Jerman. Tentu jika bukan karena landasan keilmuwan yang tinggi, tidak mungkin ada ide tersebut.
Wajar jika khasanah keilmuan berkembang pesat di Dresden.
Siapa tak kenal Anglo Saxon ? Pelopor sistem pendidikan yang berbasis riset dan pengajaran. Karena itulah kota Dresden disebut Saxony, kotanya Anglo Saxon. Di situlah riset dikembangkan. Di kota itulah kini ilmuwan Jerman memfokuskan seluruh perhatiannya untuk mengembangkan negerinya, agar tetap menjadi kampiun dalam teknologi.
Ada pusat riset bioteknologi, ada riset aeronautika, dan sebagainya.
Di situ pula terdapat perusahaan mobil VW yang khusus memproduksi mobil mewah jenis Phaeton. Perusahaan yang membuka diri menjadi obyek turisme. Turis bisa menyaksikan bagaimana mobil dibuat, mulai dari awal sampai jadi. Hanya 24 jam, mobil pun siap diantar ke konsumen yang memesan.
Mau main ski ? Cukup pergi dengan kendaraan satu jam saja ke arah utara kota. Di situ, di kawasan Saxon Switzerland, di area pegunungan yang diliputi salju tebal setiap musim dingin. Salju putih, seperti meneguhkan putihnya warga timur yang ingin bersatu membentuk Jerman yang jaya.
“Dresden memiliki motto pengembangan Riset, Turisme, dan Tradisional. Kami tidak ingin meninggalkan suasana tradisional. Kami masih mempertahankan kota ini seperti semula. Kami menghormati gereja, kami punya Martin Luther yang berjasa menerjemahkan Injil,” kata dia.
Suasana kota yang teduh, hijau, diliputi warna-warni lampu penghias kota yang semburat di antara kubah gereja Katedral, serta pelabuhan air sungai Rhine, sungguh indah dipandang mata.
“Datanglah ke sini jika ingin menikmati kenyamanan hidup,” imbuh Mahnke.
Tak hanya Dresden, pembangunan kawasan lainnya di wilayah timur pun terus bergerak dengan cepat. Privatisasi dijalankan untuk mengundang investor masuk.
Di kota Halle jadi pusat petrokimia terbesar di Jerman yang sekaligus juga mampu menyangga sebagian kebutuhan kimiawi di berbagai belahan Eropa. Brandenburg yang indah dengan wisata air, dikembangkan menjadi pusat pabrik pemasok komponen otomotif. Pokoknya tak ada lagi sisa kesusahan yang dulu dirasakan warga di kawasan timur. Yang ada adalah persamaan derajat dan kenyamanan hidup.
Bagaimana dengan Berlin ? Kota itu menjadi kota utama di Jerman. Sangat jauh bedanya antara kini dengan 25 tahun lalu, ketika masih dipisahkan tembok besar. Dulu meski jadi ibukota Jerman Timur, namun kotanya terlihat kuno. Bahkan disebut kota hitam, karena tingkat kejahatan dan kerawanan sosial yang tinggi.
Namun, Berlin kini menjadi pusat peradaban. Universitas-universitas yang menjadi pusat riset, tinggalan masa lalu, kini semakin maju. Ada 9 universitas besar di Berlin, yang menjadi tumpuan riset dan pengembangan teknologi. Humbolt University, Berlin Institute of Technology, dan sebagainya.
Sisa tembok itupun hingga kini pun masih berdiri, sama dengan gerbang megah yang tetap tegak menjulang.

CHECKPOINT : Tempat pemeriksaan bagi pelintas batas yang ingin masuk atau keluar Berlin saat masih dipisahkan tembok. Kini jadi kenangan dan digunakan pengunjung untuk latar belakang foto.

Check-point, tempat pemeriksaan siapapun yang meminta ijin melintasi perbatasan, masih utuh dan dibiarkan seperti aslinya. Tempat kamp tentara berjaga juga dibiarkan utuh, sebagai kenang-kenangan.
Ribuan orang tiap hari mendatangi lokasi bekas tembok yang dirobohkan, dan kini menjadi jalan mulus yang lebar, menghubungkan kawasan barat dan timur.
Di depan tembok ada ribuan nisan tempat menguburkan tokoh pejuang yang mempertaruhkan nyawanya sebagai tumbal persatuan. Ada yang beridentitas lengkap, namun tidak sedikit yang tanpa nama.
Kini, semuanya tinggal kenangan. Yang ada adalah masa depan bersama, masa depan Jerman yang jaya. Semuanya merasakan, betapa indah kebersamaan itu.

Bekas Pabrik pun Jadi Objek
PABRIK VW : Pabrik mobil mewah VW Phaeton yang diproduksi di Dresden, menjadi salah satu objek turis yang menarik di bidang teknologi otomotif.

ADA perbedaan mencolok antara gedung parlemen di Jerman dengan gedung DPR di Indonesia. Kalau gedung parlemen Jerman menjadi objek turisme, karena banyak kenangan sejarah yang tak terlupakan, gedung parlemen Indonesia (DPR) juga banyak dibanjiri masyarakat, namun mereka berdemo karena ingin mengadukan sesuatu masalah.
Hebat, memang. Gedung parlemen yang berada di pusat kota Berlin itu tiap hari diantre masyarakat, yang akan masuk dan menyaksikan dari dekat, bagaimana rupanya. Mereka rela antre berjam-jam untuk bisa masuk secara gratis. Ya, harus antre, sebab untuk masuk ke gedung parlemen itu, mereka menjalani pemeriksaan berlapis layaknya akan masuk ke istana negara. Harus melalui sejumlah pemeriksaan detektor.
Di gedung itu dulu, Hitler sering berpidato di depan para senator. Termasuk menjelang Perang Dunia II, yang kemudian mengakibatkan kota Berlin dan Eropa Timur lainnya dibumihanguskan Amerika. Tempat itu juga menjadi saksi ketika senator Jerman Timur ikut memutuskan peristiwa robohnya tembok Berlin, saat desakan reunifikasi terjadi.
Karena banyak peristiwa bersejarah, masyarakat pun ingin melihat langsung bagaimana sebenarnya gedung itu. Bagaimana pula para senator bersidang, dan apa isi gedung tersebut. Untuk itu, staf ada yang ditugasi memandu dan menceritakan hal ihwal kepada pengunjung.
Saat rombongan dari Indonesia dan rombongan GTZ lainnya masuk, staf yang bertugas memandu rombongan, bercerita bagaimana riwayat gedung yang dibangun awal tahun 1800-an tersebut.
Banyak yang ingin tahu, seperti apa isi dalamnya. Seperti apa kursinya, di mana ketua parlemen dan perdana menteri duduk, dan sebagainya.
Harus diakui, di samping kekunoan gedung berlantai 8, yang arsitekturnya tampak seperti gereja katedral , juga daya tarik kesejarahan, yang menjadikan kenapa turis berkunjung. Di lokasi itu pula para anggota senator yang meninggal diabadikan namanya, di sebuah batu berukir di halaman depan.
Kreativitas pengelola pariwisata di Berlin memang patut dipuji, karena mereka bisa mempromosikan dan menjadikan gedung sebagai obyek wisata, di saat gedung itu tidak dipakai bersidang. Setiap dua minggu sekali, para senator di Jerman bersidang di tempat itu selama seminggu penuh. Tentu pada saat itu masyarakat umum tidak bisa masuk.
Pabrik Batubara
Ada lagi yang menarik untuk dikunjungi, yakni pabrik batubara di Duisberg. Pabrik yang dibangun tahun 1872 itu tak lagi berproduksi sejak tahun 1986. Wilayah barat Jerman (Westphalia) itu memang kaya dengan bahan tambang. Tak hanya batubara, juga logam. Karena itu industri berat banyak ditempatkan di sana. Ada pabrik baja terbesar, pabrik alat dapur Sollingen yang terkenal, Dupont, dan sebagainya. Di samping kekayaan alam berupa batubara yang juga sudah dieksploitasi sejak lama.
Menurut Dr Mayastama dari Mesopartner, lembaga konsultan pembangunan ekonomi kawasan Westphalia, pabrik itu setiap hari memproduksi 12 juta ton barubara. Karena dibangun dengan dana yang diperoleh dari Amerika, maka saat tentara sekutu membombardir kawasan Jerman, lokasi pabrik itu tidak ada yang hancur. “Amerika memang pintar sejak dulu. Kepentingannya di manapun, tak pernah diganggu, meski negara itu dihancurkan. Termasuk pabrik mobil Opel yang juga didanai bank AS, tidak rusak secuilpun,” kata dia.
Setelah sekian puluh tahun digali, akhirnya bahan batubara yang tersisa di kedalaman 1.000 meter di dalam perut bumi pun tidak layak lagi. Biaya operasional tidak memadai dengan harga jualnya, sehingga pabrik tersebut dihentikan operasinya.
Namun, berhentinya pabrik, bukan berarti nilai jualnya habis. Pabrik pun dilestarikan bangunannya, dan dijadikan objek turisme. “Yang dijual adalah keaslian mesin, , dan juga berbagai bangunan yang tetap terpelihara sampai sekarang,” kata dia.
Untuk melestarikan dan merawat pabrik itu, pemerintah federal Jerman mengalokasikan dana 50 juta euro selama lima tahun, atau sekitar 10 juta euro selama setahun. Jika dirupiahkan, mencapai Rp 600 miliar. Sangat besar, namun mungkin itulah komitmen yang ditunjukkan pemerintah pada dunia turisme.
Ada cerita menarik yang disebarkan kepada pengunjung. Di samping soal keaslian pabrik dengan mesin buatan Siemen, ternyata akibat eksplorasi batu bara itu, tanah di sekitar kota menjadi labil. Bahkan pabrik yang dulu dibangun dengan ketinggian bangunan mencapai 100 meter, ambles sampai 25 meter.
“Amblesnya bangunan itu memang berjalan sekitar 100 tahun lebih. Tidak terasa, namun sungguh luar biasa akibat yang dirasakan. Bangunan lainnya di kota ini pun tidak ada yang berdiri tegak. Semuanya berubah, ada yang miring ke kanan, ke kiri, pokokya labil tanahnya akibat eksploitasi tambang.”
Pabrik itu kini tinggal monumen. Di bagian mesin utama justru berdiri restoran termahal, dengan arsitek unik karena mesin-mesin masih terpampang di kanan dan kini meja yang digunakan makan. Unik dan sekaligus juga menarik.Bupati Karanganyar Rina Iriani kini sedang mencoba meniru. Bekas pabrik gula Colomadu dijajaki untuk dijual ke swasta, dimanfaatkan sebagai obyek turisme. Mungkin konsepnya bisa meniru pelestarian pabrik batubara di Disberg itu.

Sumber: Suara Merdeka.

Entry filed under: EUROPE. Tags: .

Penuh Monumen Kejayaan Masa Lalu Grajagan (G-Land) not just as a perfect wave, but as a perfect adventure.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: