Kota Kairouan, Titik Awal Islam ke Africa dan Eropa

SEORANG belia bertubuh kurus dan berkulit hitam tiba-tiba masuk ruangan utama, shalat di masjid besar Kota Kairouan yang dikenal dengan nama Masjid Uqba bin Nafi itu. Kemunculannya secara tiba-tiba itu memang cukup menarik perhatian orang yang berada di ruangan tersebut.
IA ternyata adalah salah seorang murid asal Afrika yang sedang belajar pada sekolah Tahfidh Al Quran di masjid tersebut untuk menghafal kitab suci Al Quran, yang terdiri dari 30 juz itu. Ia mengaku bernama Yusuf, yang baru berusia 15 tahun. “Saya sudah dua tahun belajar di sini, dan telah hafal sebanyak 25 juz dari kitab suci Al Quran,” ungkap Yusuf.
Yusuf yang berasal dari Niger adalah seorang dari 10 murid asal Afrika yang sedang belajar di Kairouan. Mereka datang ke Tunisia, tepatnya Kota Kairouan, dari negara mereka masing-masing atas biaya sebuah lembaga sosial swasta di Tunisia. Selama belajar di Kairouan, mereka tinggal gratis di asrama dan mendapatkan jaminan makanan serta uang saku.
Menurut Hussein (salah seorang penjaga masjid), murid-murid dari Afrika selalu datang secara berkesinambungan, yang berasal dari Mali, Nigeria, Niger, dan Burkina Faso.
Memasuki Kota Kairouan memang segera terkesan tentang sebuah kota santri yang bernuansa agamis. Hussein menyebutkan, ada sekitar 250 masjid yang tersebar di seluruh pelosok Kota Kairouan. “Di setiap pojok atau lorong kecil di kota ini, pasti terdapat masjid,” ungkap Hussein.
Ia juga mengungkapkan, dari seusai salat magrib hingga waktu isa tiba, para murid dari Afrika, Tunisia, dan negara Arab lain menghafal Al Quran di Masjid Uqba bin Nafi.
“Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional di Tunisia selalu digelar di Kota Kairouan. Para ulama dan cendekiawan Tunisia kini berusaha membangkitkan kembali kejayaan dan nama besar Kota Kairouan yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah,” kata Hussein lagi.
Karena itu, lanjutnya, peristiwa penting keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Quran dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kini senantiasa diadakan di Kota Kairouan, bukan di ibu kota Tunis.
JARAK antara Kota Tunis dan Kairouan sekitar 150 kilometer dengan melalui jalan yang sangat mulus. Maklum, infrastruktur negeri Tunisia-termasuk jalan-jalan raya antarkota-yang penghasilan devisanya mengandalkan dari bisnis turisme, tampak terpelihara secara apik. Seperti diketahui, sekitar 5 juta turis mengunjungi Tunisia setiap tahun. Kota Kairouan merupakan salah satu tujuan utama wisata para turis itu.
“Ada sekitar 1.000 hingga 2.000 turis yang mengunjungi Kairouan dan Masjid Uqba bin Nafi setiap hari,” kata Hussein, yang setiap hari menjaga masjid tersebut.
Kairouan hingga saat ini sangat diminati para turis dari mancanegara. Namun, turis khusus di kota itu adalah wisatawan budaya atau para arkeolog. Sebagian besar turis mengunjungi Kairouan dengan bus-bus turis yang datang dari kota wisata Sousse atau Kota Hamamet. Jarak antara Kairouan dan Souse hanya sekitar 50 kilometer, sedangkan antara Kairouan dan Hamamet sekitar 100 kilometer.
Para turis biasanya menghabiskan waktu sehari di Kota Kairouan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Masjid Uqba bin Nafi. Sebagian besar Turis yang berminat mengunjungi Kairouan berasal dari Eropa dan Jepang yang telah membaca tentang sejarah kota tersebut sebelumnya. Kairouan dikenal merupakan paduan antara Kota Damaskus dan Marrakesh, Maroko.
Di Kairouan, para turis lebih senang mengunjungi pasar sajadah atau karpet tradisional, parfum lokal, dan barang-barang yang terbuat dari perak atau tembaga. Di sekitar Masjid Uqba bin Nafi pun terdapat banyak kios dan toko yang menjual sajadah, karpet, dan barang-barang tradisional lainnya. Setiap turis atau penziarah pasti tidak lepas dari rayuan pada penjual tersebut agar sudi mengunjungi kios atau toko mereka.
Seperti halnya di kota turis lainnya, penduduk Kairouan juga mengais rezeki dengan menjual barang-barang tradisional itu kepada para turis yang berkunjung ke kota mereka.
Bagi para turis yang kurang memahami bahasa dan peradaban Arab, mereka lebih menyenangi mengunjungi kawasan Raqadah di pinggiran Kairouan. Di sana terdapat peninggalan istana para raja dari Dinasti Aghlabid, yang berkuasa di kota tersebut lebih dari satu abad. Di Raqadah, mereka bisa menyaksikan hiasan dan lukisan kehidupan kabilah lokal.
KEUNGGULAN Kairouan adalah keberadaan Masjid Uqba bin Nafi yang sangat populer dan histroris. Masjid tersebut merupakan masjid tua terbesar dan terpenting di Tunisia dan Benua Afrika. Dari kota itu dengan masjidnya, agama Islam dulu bertitik tolak menyebar ke Benua Afrika, Kepulauan Sisilia, dan Italia selatan. Sementara tentara Tareq bin Ziyad bertolak dari Kairouan menuju Andalusia (Spanyol sekarang).
Karena itu, keberadaan murid-murid asal Afrika secara permanen di Kairouan ibarat tali sejarah yang menyambungkan kota tersebut dengan benua hitam Afrika. Kota Kairouan, Benua Afrika, dan agama Islam bak sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Kekhasan Kairouan adalah menyuguhkan paduan antara panorama khazanah dan modernitas. Benteng Turki dengan model bangunan asli (berbentuk bangunan benteng), misalnya, kini dijadikan hotel berbintang lima dengan segala macam fasilitas modern, seperti kolam renang, restoran, dan kamar-kamar yang elok.
Di Kairouan sendiri, pemandangan rumah-rumah penduduk khas Arab dengan jalan-jalan yang sempit mengingatkan kota lama di Cairo dan Damaskus. Menjelajah Kota Kairouan memang seakan-akan menemukan sebuah perjalanan sejarah yang telah terhenti. Bangunan dan rumah peninggalan masa abad pertengahan Islam mewarnai secara mencolok di Kota Kairouan, seperti halnya pemandangan di Kota Cairo (Mesir), Fez, dan Marrakesh di Maroko.
Adalah Uqba bin Nafi sang pendiri Kota Kairouan pada tahun 670, dan ia langsung merancang pembangunan masjid dengan menggunakan nama dirinya “Uqba bin Nafi”. Alkisah, ia bersama bala tentaranya berangkat dari sebuah daerah Sahara di Mesir dan terus menyelusuri hamparan luas Sahara di Afrika utara hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Kairouan-Tunisia.
Di tempat tersebut, Uqba bin Nafi bersama bala tentaranya itu membangun sebuah kamp sebagai pangkalan dan titik tolak menuju wilayah Afrika lainnya dan Andalusia. Kamp tersebut akhirnya menjadi sebuah kota Islam pertama di wilayah Afrika utara, yang bahkan ada menyebut sebagai kota suci Islam keempat setelah Mekkah, Madinah, dan Jerusalem (Al Quds).
Pada tahun 698, tentara Uqba bin Nafi berhasil mengalahkan tentara Byzantines di Carthage, yang mengantarkan ia menguasai hampir seluruh Afrika utara yang dikenal dengan sebutan “Ifriqiya”. Kota Kairouan dijadikan sebagai ibu kota wilayah Afrika utara itu.
Gubernur wilayah tersebut diangkat oleh khalifah dari Dinasti Umayyah di Damaskus dan lalu Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Tradisi itu terus berlanjut pada abad berikutnya, yakni pada masa Dinasti Aghlabid (abad ke-9), Dinasti Fatimiyah (abad ke-10), dan Dinasti Zirid (abad ke-11).
Pada abad-abad itu, Kota Kairouan menjadi pusat budaya terpenting di dunia Arab yang kaya dengan para ilmuwan, literatur, dan seniman. Pertanian di wilayah tersebut sangat berkembang berkat sistem irigasi yang canggih dan aktivitas perdagangan yang juga melesat dengan wilayah sekitarnya.
Kota Kairouan secara politik dan ekonomi dalam waktu singkat mengungguli Kota Tunis, Tiemcen, Fez, Marrakesh, dan kota-kota lain di Afrika utara.
Sebagai salah satu kota suci Islam, Kota Kairouan pun dalam sekian abad sangat menarik minat para penziarah kaum Muslim dari Afrika utara dan Afrika hitam.
Kota Kairouan semula berfungsi seperti kamp militer tentara Arab, kemudian meluas dan menjadi sebuah kota. Kota tersebut beralih menjadi ibu kota Islam pertama di wilayah Arab Maghrib.
Kota Kairouan mengalami perluasan pertama pada tahun 743, kemudian diperluas lagi untuk kedua kalinya pada tahun 774. Kota itu mencapai bentuk dan luasnya seperti sekarang pada tahun 836 ketika Pangeran Ziyadatullah I menginstruksikan merenovasi kota tersebut dan membangun menara masjid seperti yang terlihat sekarang.
Menara Masjid Uqba bin Nafi memiliki tinggi sekitar 25 meter, sedangkan kubah masjid mempunyai tinggi sekitar tujuh meter.
Sementara sumber sejarah lain mengungkapkan, komandan Arab Hassan bin Nu’man adalah pelaksana pembangunan masjid itu atas dasar rancangan yang dibuat Uqba bin Nafi. Masjid itu kemudian mengalami perkembangan dan perluasan dari masa ke masa secara berkesinambungan, dari Khalifah Umayyah, Hisham Bin Abdul Malik, hingga mencapai bentuknya seperti sekarang ini.
Kota Kairouan mengalami renovasi lagi pada tahun 862, tahun 1025, tahun 1294, tahun 1618, dan pada akhir abad lalu. Renovasi terakhir terpenting dilakukan pada tahun 1970-1972, bersamaan dengan peringatan 13 abad berdirinya kota tersebut.
UNESCO, mulai tahun 1986 hingga tahun 1992, membantu mengucurkan dana untuk merenovasi Kota Kairouan, termasuk merenovasi ruangan shalat, menara, dan atap dalam masjid.
Para pendiri kota itu tampaknya sejak awal sudah menyadari bahwa di wilayah itu sangat jarang hujan. Maka, guna menampung air untuk kebutuhan masjid, mereka membangun tempat-tempat penyimpanan air untuk menampung air hujan. Tempat-tempat penampungan air itu tetap terpelihara secara baik hingga sekarang dan bahkan menyuplai kebutuhan air penduduk kota.
Sementara pintu-pintu yang dikenal sangat indah di Masjid Uqba bin Nafi adalah pintu barat, pintu air, pintu Rihanah, dan pintu Saleha.
Mimbar masjid di Kairouan merupakan mimbar tertua dan terkenal di Tunisia. Mimbar tersebut terbuat dari kayu jati dengan kualitas tinggi dan dihiasi beberapa ukiran menarik. Mimbar itu sangat terpelihara karena para khatib masjid adalah para pangeran yang sedang berkuasa pada zamannya.
Sejumlah sejarawan mengungkapkan, Kota Kairouan dibangun di atas reruntuhan Kota Romawi yang diwarnai bangunan berteknologi tinggi pada masanya.
Jangan lupa, siapa pun yang mengunjungi Kota Kairouan atau kota lain di Tunisia, cobalah makan kuskus (makanan khas Tunisia) yang dicampur dengan daging dan susu sambil menikmati kelihaian warga Kairouan dengan menunggang kuda dan nikmatilah permainan akrobatiknya.

(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
_________________________________________________________________
City’s History
Kairouan (variations include Kairwan, Kayrawan, Al Qayrawan) is a city in Tunisia, about 160 kilometers south of Tunis. In 2003 the city had about 150,000 inhabitants. Founded in about the year 670, the original name was derived from Arabic kairuwân, from Persian Kârawân, meaning “camp”, “caravan”, or “resting place” (see caravanserai). It is the capital of the Kairouan Governorate, and regarded by Muslims as a holy city.
Kairouan was founded in about the year 670 when the Muslim general Uqba ibn Nafi selected a site in the middle of a dense forest, then infested with wild beasts and reptiles, as the location of a military post. It was to keep in check the Berber hordes and was located far from the sea where it was safe from attack. A city soon developed, with luxuriant gardens and olive groves. Ibn Nafi was killed in battle by the Berbers about fifteen years after the military post was established.
The city was soon recaptured and remained for four centuries a major holy city, the “Mecca of North Africa”. In the tenth century, the city was embellished by the Aghlabites who ruled Ifriqiya from there between 800 and 909. It was the capital in the eleventh century, and was famous for its wealth and prosperity.
About the middle of the eleventh century, the Ismaili Shiite Fatimites of Egypt instigated the Egyptian Bedouins to invade this part of Africa. These invaders so utterly destroyed the city in 1057 that it never regained its former importance. Then Mahdia became the capital under the Fatimites. Under the Ottomans, who called it Kairuan in Turkish (as in modern German), and included mention of the city in the full style of the Great Sultan (alongside broader Barbary and the new vilayet), Tunis became the capital (as seat of the Dey, next the soon ever more autonomous (Basha) Bey), and remains so in modern Tunisia. In 1881, Kairouan was taken by the French, after which non-Muslims were allowed access to the city.
Kairouan is a holy city for many Muslims, and many Sunni Muslims consider it the fourth holiest city of Islam, after Mecca, Medina and Jerusalem, and the holiest city of the Maghreb. There are very many mosques in the city, among which the great mosque. For a long time, non-muslims were not allowed to enter the city, in more recent times this is allowed. Pilgrimages are made to this holy city. Judaism, no longer prevalent in the city, has an illustrious history in Kairouan, particularly in the early Middle Ages. Rabbeinu Hananel was from Kairouan and many other important and famous rabbis, including the RIF, (Rabbi Isaac Alfasi) studied there with him.
The souk (market place) of Kairouan is very famous, it is in the medina, which is surrounded by walls, and of which the entrance gates can be seen from far. Products that are sold here are carpets, vases and goods made of leather. As with merchants in most major Tunisian cities, Kairouan merchants rely on tourism for much of their income. The city’s other main site is the Great Mosque, which is said to largely consist of its original building materials. In fact most of the column stems and capitals were taken from ruins of earlier-period buildings, while others were produced locally.

August 23, 2007 at 6:04 pm Leave a comment

Mengenang Jejak Ibnu Khaldun di Tunisia

DI salah satu rumah pada lorong kecil di kawasan Souq (kawasan pasar lama), ibu kota Tunis, seorang pemikir besar Muslim pernah dilahirkan. Ia adalah Ibnu Khaldun, pengarang legendaris yang pernah menulis buku berjudul Al Muqaddimah. Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1332.
RAKYAT dan Pemerintah Tunisia bangga dengan kebesaran nama Ibnu Khaldun. Sekitar 500 meter dari Souq, terdapat patung besar Ibnu Khaldun. Bila menuju Souq dari arah Jalan Habib Buorghiba di pusat Tunis, akan terlihat patung Ibnu Khaldun.
Jalan menuju tempat kelahiran Ibnu Khaldun harus melalui lorong-lorong kecil di Souq. Di kiri-kanan sepanjang lorong itu terdapat toko-toko atau kios penjual barang tradisional Tunisia.
Tampak terlihat banyak turis yang lalu-lalang di kawasan tersebut. Para turis atau peziarah di Kota Tunis tentu saja tidak dapat melewatkan kawasan Souq. Di Souq, para turis bisa membeli souvenir dan melihat rumah-rumah asli Arab Maghrib.
Para pemilik toko dan kios itu tampak sibuk menawarkan barang jualan kepada turis. Hiruk-pikuk suara pemilik toko menjadi bagian utama keramaian di Souq. Kira-kira 300 meter hingga 400 meter dari jalan utama masuk ke dalam Souq, terdapat sebuah lorong kecil yang dipercayai sebagai tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Di pojok lorong kecil itu terdapat bangunan sederhana, tempat Ibnu Khaldun pada masa kecil belajar mengaji Al Quran dan ilmu-ilmu agama. Bangunan tersebut kini dijadikan masjid, yang di depannya tertera tulisan, “Pusat Al Quran Ibnu Khaldun”. Tidak sulit mencari lorong itu karena rata-rata warga Tunis di Souq tahu tempat tersebut.
“Saya tidak tahu persis di rumah yang mana Ibnu Khaldun dilahirkan. Namun, yang pasti di salah satu rumah di sepanjang lorong ini dia dilahirkan,” ungkap Direktur Kajian Khazanah pada Institut Nasional Tunisia, Ben Baaziz Sadok. Gedung Institut Nasional Tunisia itu terletak di lorong kecil tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Ben Baaziz, yang mengaku juga sebagai dosen sejarah kuno pada Universitas Sousse-Tunisia, saat itu mendampingi Kompas melihat keadaan Gedung Institut Nasional, yang terdiri dari dua lantai. “Institut Nasional itu merupakan proyek Pemerintah Tunisia untuk menghimpun dan mendokumentasi arsip-arsip peninggalan sejarah negeri ini, termasuk semua arsip menyangkut Ibnu Khaldun,” ujar Ben Baaziz.
“Gedung ini sudah ada sejak zaman Ibnu Khaldun dan mengalami renovasi beberapa kali. Sementara gedung dalam bentuknya yang terakhir ini, kira-kira baru berusia 80 tahun. Dan, ada sekitar 20 pegawai yang bekerja sehari-hari di sini,” katanya lagi.
IBNU Khaldun, yang memiliki nama lengkap Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili, menjalani masa remaja dan belajar hingga usia 20 tahun di Kota Tunis-Tunisia, tempat kelahirannya. Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari wilayah Hadramaut-Yaman, yang berhijrah sejak perluasan wilayah Islam ke Andalusia dan berdomisili di wilayah Sevilla, Spanyol.
Keluarga Ibnu Khaldun bersama dua keluarga Arab berpengaruh lainnya, yaitu keluarga Bani Abu Abdah dan Bani Hujjaj, memainkan peran yang signifikan dalam urusan politik dan militer di wilayah Sevilla.
Ketika keluarga Ibnu Khaldun mulai merasa akan semakin dekat jatuhnya Sevilla ke tangan Spanyol pada tahun 1248, mereka keluar menuju Melilia-Maroko, lalu pergi ke Tunisia pada masa kekuasaan Abi Zakariya Hafsid pada tahun 1228-1249.
Meskipun selalu berada dalam situasi pengungsian, keluarga Ibnu Khaldun mampu mempertahankan reputasi keilmuan dan status aristokrasinya. Maka, Abu Bakar Muhammad bin Hassan (kakek Ibnu Khaldun) dipercaya menjabat urusan keuangan.
Namun, Ahmed ibnu Abi Imarah Masieli, yang berkuasa di Tunisia pada tahun 1283-1284, menangkap Bin Hassan serta menyita semua kekayaannya dan akhirnya membunuhnya. Meski demikian, Muhammad (putra Bin Hassan), yang merupakan kakek langsung Ibnu Khaldun, tetap menunjukkan loyalitas terhadap Sultan Imarah Masieli dan menduduki beberapa posisi penting di Tunisia dan Aljazair.
Sementara Muhammad (putra Muhammad)-ayah kandung Ibnu Khaldun-memilih tidak terjun ke dunia politik dan berkonsentrasi pada keilmuan serta kesusastraan. Hal itu membawa inspirasi pada putranya, Ibnu Khaldun, untuk mengikuti jejak ayahnya, yakni menekuni dunia keilmuan.
Pada saat itu, Kota Tunis kaya dengan para ulama dan cendekiawan yang terkenal di wilayah Arab Maghrib dan bahkan Benua Afrika. Interaksi Ibnu Khaldun dengan para ulama Arab Maghrib, terutama mereka yang beraliran rasionalis, mendorongnya untuk belajar filsafat yang kelak memengaruhi jalan pemikirannya.
Masa kedua perjalanan hidup Ibnu Khaldun disebut sebagai masa petualangan politik, yang bermula di usia 20 tahun hingga 43 tahun. Ibnu Khaldun saat itu bertekad berangkat ke Kota Fez-Maroko untuk menimba ilmu, yang kala itu tempat tersebut kaya dengan para ulama terkenal yang hijrah dari Andalusia.
Ketika tiba di Kota Fez pada tahun 1354, Ibnu Khaldun memprediksi akan mendapatkan jabatan penting, tetapi ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kekecewaan tersebut membuat Ibnu Khaldun semakin berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan. Kendati begitu, ambisi politik Ibnu Khaldun tidak pernah pudar.
Ketika Sultan Marinides di Kota Fez jatuh sakit, ada upaya yang melibatkan Ibnu Khaldun untuk mengembalikan mantan penguasa Biaja-Aljazair Pangeran Abi Abdullah ke tampuk kekuasaan di Fez. Namun, upaya yang disebut sebagai gerakan konspirasi tersebut terbongkar dan Ibnu Khaldun dijebloskan ke penjara selama dua tahun (1357-1358).
Ketika Abu Anan wafat, terjadi pertarungan memperebutkan kekuasaan. Ibnu Khaldun mengambil manfaat dari pertarungan tersebut, dan ia dapat dibebaskan dari penjara. Setelah keluar dari penjara, Ibnu Khaldun bergabung dalam barisan oposisi dalam upaya meraih posisi dalam kekuasaan.
Pada tahun 1359, Ibnu Khaldun mendapat posisi penting, yakni dipercaya sebagai sekretaris Sultan Marinides baru, Abi Salim. Namun, Ibnu Khaldun menduduki posisi tersebut hanya sekitar dua tahun lantaran goyahnya kekuasaan Abi Salim menyusul aksi unjuk rasa terhadap kekuasaan Abi Salim itu, termasuk memprotes peran Ibnu Khaldun dalam kekuasaan yang akhirnya berhasil didepaknya.
Ibnu Khaldun kemudian merasa sudah tidak mendapat tempat lagi di Fez dan berusaha keluar dari kota tersebut. Ia semula berniat kembali ke Tunisia setelah gagal di Fez. Namun, Ibnu Khaldun memilih pergi ke Granada-Andalusia. Di Granada, Ibnu Khaldun untuk pertama kalinya melakukan komunikasi dengan dunia Kristen ketika ia diutus oleh Ibnu Khatib (penguasa Muslim Granada) untuk mengadakan kesepakatan damai dengan penguasa Kristen di Sevilla, Pedro The Cruel.
Pada tahun 1365, Ibnu Khaldun keluar dari Granada setelah merasakan situasi di wilayah itu tidak kondusif lagi bagi dia. Ia berharap mendapat posisi penting lagi di wilayah Arab Maghrib.
Penguasa Biaja-Aljazair kebetulan menawarkan pada Ibnu Khaldun jabatan deputi raja dengan mengajar dan sebagai khatib di Masjid Kasbah. Sementara adiknya, Yahya Bin Khaldun, mendapat jabatan sebagai hakim agung. Namun, masa itu cepat berakhir pula karena penguasa Konstantin, Abu Abbas, memerangi Biaja dan membunuh penguasanya, Abu Abdullah.
Sejak itu Ibnu Khaldun memilih istirahat sementara dari dunia politik dan berkonsentrasi pada dunia keilmuan. Akan tetapi, ambisi politik Ibnu Khaldun ternyata belum pudar sama sekali. Ia mendorong terjalinnya koalisi antara Sultan Hafsi Abi Ishak Bin Ibrahim dan Sultan Tiemcen Abi Hammu melawan penguasa Biaja Abu al Abbas.
Ia memimpikan menyatukan wilayah Arab Maghrib dari keterpecahan dan persaingan antara penguasa wilayah satu dan lainnya. Namun, lagi-lagi ia mengalami kekalahan politik ketika penguasa Tiemcen, Abu Hammu, ditaklukkan. Ibnu Khaldun sendiri ditangkap tentara Sultan Abdul Aziz Marinides tatkala hendak menyeberang ke Andalusia, tetapi tidak beberapa lama setelah itu ia dibebaskan lagi.
Ia kembali lagi ke Fez dan mendapat sambutan hangat di kota tersebut. Ia berkonsentrasi belajar di kota itu. Namun, tidak berapa lama setelah itu, ia ditangkap dan lalu dibebaskan lagi serta diizinkan menyeberang ke Andalusia. Pada tahun 1375, Ibnu Khaldun kembali ke Arab Maghrib dan berdomisili bersama keluarganya di Kota Tiemcen-Aljazair.
Ibnu Khaldun menjalani masa tua dan isolasi diri untuk konsentrasi terhadap ilmu pengetahuan, bermula dari usia 43 tahun hingga wafatnya. Pada masa itu, Ibnu Khaldun memilih meninggalkan dunia politik. Ia kemudian keluar dari Tiemcen dan berdomisili di wilayah Oran selama empat tahun, yakni tahun 1375-1379.
Ketika tinggal di Oran, Ibnu Khaldun mulai mengarang kitab Al Muqaddimah yang sangat legendaris itu. Di saat mengarang kitab tersebut, Ibnu Khaldun merasa kekurangan referensi, yang memaksa ia minta izin kepada Sultan Hafsid Abu Abbas untuk kembali ke Tunisia.
Ia tiba di Tunis pada tahun 1378 setelah meninggalkannya selama 27 tahun. Ia menyelesaikan kitab Al Muqaddimah di Tunisia.
Dalam Al Muqaddimah, Ibnu Khaldun menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara. Ia mulai menyadari pula, walaupun secara kultural Islam masih berada dalam zaman keemasan, basis material dari hegemoni Islam ketika itu telah melemah. Misalnya, wilayah-wilayah Islam di Afrika utara menghadapi tantangan dari suku-suku nomaden tradisional serta persaingan antara penguasa di satu sisi dan kekuatan Kristen di sebelah utara yang menguasai alur Mediterania di sisi lain. Invasi Mongol dari timur juga menggerogoti struktur yang telah terbangun dan kota-kota peradaban Islam.
MESKIPUN telah berkonsentrasi mengajar dan mendalami ilmu, lawan-lawan Ibnu Khaldun terus mengganggu, yang akhirnya ia memutuskan meninggalkan Tunis dan Arab Maghrib.
Pada tahun 1382, ia meninggalkan Tunisia menuju Alexandria dan kemudian ke Cairo. Ia mulai menjalani hidup di Cairo sebagai pengajar di Universitas Al Azhar. Pada tahun 1384, ia diangkat sebagai hakim untuk mazhab Maliki.
Di Cairo pun ia memiliki banyak musuh yang selalu berusaha menyingkirkannya dan akhirnya ia dipecat sebagai hakim pada tahun 1385. Ia kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembali dari Mekkah, ia cenderung ke arah sufi dan memimpin sebuah sekolah sufi. Setelah 14 tahun mengajar, Ibnu Khaldun dipercaya kembali sebagai hakim pada tahun 1399, tetapi dipecat lagi pada September 1400.
Pada bulan Desember 1400, Ibnu Khaldun keluar dari Cairo menuju Damaskus. Di Damaskus, ia kembali menghadapi sebuah pertarungan kekuasaan yang memaksa ia kembali ke Cairo. Pada tahun 1401, ia tiba di Cairo dengan sambutan hangat dan diangkat kembali sebagai hakim hingga wafatnya pada tanggal 17 Maret 1406.
Patung Ibnu Khaldun di pusat kota Tunis yang gagah perkasa memang seperti membersitkan dirinya sebagai seorang ilmuwan besar dan sekaligus politisi kawakan। Dua identitas itulah yang melekat pada diri Ibnu Khaldun hingga akhir hayatnya.(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
___________________________________________________________________
Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadhrami, 14th-century Arab historiographer and historian, was a brilliant scholar and thinker now viewed as a founder of modern historiography, sociology and economics. Living in one of humankind’s most turbulent centuries, he observed at first hand—or even participated in—such decisive events as the birth of new states, the death throes of al-Andalus and the advance of the Christian reconquest, the Hundred Years’ War, the expansion of the Ottoman Empire, the decline of Byzantium and the great epidemic of the Black Death. Albert Hourani described Ibn Khaldun’s world as “full of reminders of the fragility of human effort”; out of his experiences, Arnold Toynbee wrote, “He conceived and created a philosophy of history that was undoubtedly the greatest work ever created by a man of intelligence….” So groundbreaking were his ideas, and so far ahead of his time, that a major exhibition now takes his writings as a lens through which to view not only his own time but the relations between Europe and the Arab world in our own time as well. —The Editors

August 23, 2007 at 5:42 pm Leave a comment

Mt. Bromo & Semeru-A Spectacular Volcanic Landscape in East Java

The Bromo Tengger Semeru National Park covers some 800 square kilometers in the centre of East Java. It is the largest volcanic region in the province and there stands Mt. Semeru, which rises 3676 meters above sea level. At its northern end is the spectacular Tengger Caldera, Java’s largest, with its 10 km barren desert-like sea of sand. Within the caldera rise the deeply fissured volcanic cones of Batok and Bromo, the latter is still active with a cavernous crater from which smoke blows skyward. Temperatures at the top of mount Bromo range about 5 to 18 degrees Celcius . To the south is a rolling upland plateau dissected by valleys and dotted with several small scenic lakes, extending to the foot of Mount Semeru, a towering grey forest-skirted cone dominating the southern landscape.
Tengger sandy area has been protected since 1919, and its believed to be the only conservation area in Indonesia, even probably in the world possessing a unique ocean and sand at the attitude about 2000 m above sea level. There are several mountains inside the calderas namely: Mt Watangan (2,661 m asl)., Mt Batok (2,470 m asl), Mt Kursi (2,581 asl), Mt Watangan (2,661 m asl), and Mt Widadaren (2,650 m asl)…READ MORE

August 23, 2007 at 9:39 am Leave a comment

The Dramatic of Kecak Dance in Bali

The Kecak dance is one of the most famous of Balinese dances. It is unusual because it has no musical accompaniment like many other Indonesian dances do, the rhythm of the dance is produced by the chanting ‘monkey’ chorus. Instead, a troupe of over 150 bare-chested men serve as the chorus, making a wondrous cacophony of synchronized “chak-achak-achak” clicking sounds while swaying their bodies and waving their hands .From that chanting noise of “Cak-cak-cak”, then it gave the dance its name Kecak.
What makes the Kecak such a fascinating dance to watch are the fifty or so men in the checkered pants. They are both the choir and the props, providing the music for the story in a series of constant vocal chants that change with the mood of the actors. They don’t sit still, either, they wave their arms to simulate fire, and reposition themselves around the stage to represent wind and fire, prison cells, and unseen hand of protection from the gods.
The dance is played in five acts and lasts roughly 45 minutes. It taken from the Hindu epic Ramayana, which tells the story of Prince Rama and his rescue of Princess Sita, who has been kidnapped by the evil King of Lanka, Rahwana and somehow with the help of the white monkey army, Rama rescues his wife and defeats the evil Rahwana.
Attending a Kecak recital is a must for any visitor to Bali. It is a wondrous experience, and a window into the musical and artistic culture that make the Balinese a special people.

Getting There
By Air:Numerous international carriers service Bali’s Ngurah Rai International Airport either directly or via Jakarta. Domestic airlines operate schedule flights from various cities within Indonesia.
By Land:Bali is connected to Java by a regular ferry service running between Gilimanuk and Banyuwangi. If you are taking the train or a night bus from Jakarta, Bandung or Yogyakarta, travels first to Surabaya for the connection to Banyuwangi. Buses can be boarded at Banyuwangi or Gilimanuk for the final leg to Denpasar.
By Sea:The state-run passengers line PELNI operates weekly sailing’s between Bali and Jakarta, Ujung Pandang and Balikpapan. Regular ferries sail between Lombok and Bali.
Where To Stay
No need to worry where youll stay in Bali. There are many hotels range provided here, from the luxurious, middle range and budget hotels are spread around the island.
Dining Guide
There are a variety of restaurants in Bali offering a good choice of food to suit a variety of tastes at reasonable prices. Kuta and Jimbaran is a great place to eat especially Seafood and Western dishes are your best bets while in Ubud lots of sophisticated restaurants and many of the shopping centers in the area have places to eat and there are several fast food places for those fast food addicts.
Moving Around
Its so easy to move around in Bali, especially in the tourist area. You can rent a bike or motorcycle to move around the city. Theres also car rental. Public buses ply routes throughout Bali from Denpasar’s Ubung Terminal.
Other Things To Do or See
There are a lot of things to do or see while youre in Bali. Beside its cultural and art, there are also numerous temples, ancient sites and of course, great restaurants around Ubud while in the roads around Kuta, Legian and Sanur are lined with shops and hawkers that sell about everything, offering a huge choice of places to eat and a lively nightlife.
Souvenir Tips
Handwoven fabrics are a great buy; a simple sarong is an inexpensive, portable and practical travel accessory,Ubud is the best place for you to buy paintings and other artworks,Browsing at the Sukawati Art Market and Galeria Nusa Dua offers a tempting range of Balinese goods in one place.
Travel Tips
Various hotels in Bali hold Kecak Dance performances and often deal providing dinner and tickets to the performance are offered at the main hotels in Bali. Ask your hotel for further information.
Weekly (in some places daily) performances of the Kecak abound around the island, but the most well-known Kecak Theater is in the town of Batubulan just north of the Balinese capital of Denpasar. The dance company provides transportation for a nominal fee to and from the resort.
Upon arrival, if your hotel has not arranged transportation from the airport, hire a taxi from the transport counter outside the arrival gate. Fares are listed by destination and must be paid in advance. Metered taxis are also available in Kuta, Sanur, Nusa Dua and Denpasar.

August 23, 2007 at 6:11 am 1 comment

Dari Agra dengan Cinta

Oleh: Arif B Sholihah
You allowed your kingly nation to vanish, Shah Jahan, but your wish was to make a tear drop of love in the cheek of eternity (R Tagore).

Kalimat indah Rabindranath Tagore yang dikutip buku panduan perjalanan di pangkuan terus saja terngiang di telinga. Begitulah sang pujangga menggambarkan Tajmahal yang akan segera kami ziarahi. Ia bagaikan tetesan air mata cinta pada pipi keabadian.
Agra masih empat jam lagi. Langit sudah mulai senja. Hamparan ladang mustard dengan bunga-bunga kuning cerianya terhampar di kanan-kiri jalan. Sesekali tampak perempuan desa berpakaian sari warna-warni membawa kendi air di kepala.
Menyusuri negeri Hindustan melalui jalan darat memang tidak selalu mudah. Begitu keluar dari jalan raya arah Jaipur, Rajasthan, perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang berlubang dan sempit menjadi tantangan tersendiri. Seperti saat ini.
Hari semakin gelap saja. Jendela bus mulai kami tutup. Sesegera setelah gelap datang, cuaca semakin berangin. Sopir mulai menyalakan hio dan lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pooja kepada mobile shrine yang terpajang di kaca depan bus kembali dilakukan. Kami pun ikut terbawa suasana ritual mereka yang syahdu. Ooh… Hindustani….
Pukul 21.00 waktu setempat kami tiba di Agra. Sebuah kota di gurun Uttar Pradesh yang masih tampak sangat hidup. Di kanan-kiri jalan baliho-baliho iklan terpampang tanpa penataan. Wajah-wajah akrab artis Bollywood seolah menghilangkan penat perjalanan.
Agra bukanlah kota besar, namun sejak beratus-ratus tahun lalu Agra telah terpilih menjadi ibu kota bagi Dinasti Sikandra, jauh sebelum Dinasti Mughal akhirnya berkuasa dari kota di tepi Sungai Yamuna. Oh Agra, kami sudah tiba.
Janji untuk melihat Tajmahal di langit malam Agra pupus begitu kami tiba di kamar hotel. Meski hotel melati, tetapi penat membuat kami bahkan melupakan makan malam. Harapan bermimpi tentang kecantikan Mumtaz Mahal dan kegagahan Shah Jahan menjadi pilihan. Seawal pukul 04.00 kami dibangunkan suara-suara orang berjalan dari koridor hotel. Kami pun ingin segera bergegas. Selamat pagi Agra.
Pukul 06.00. Kabut masih putih ketika kami menaiki puncak hotel. Sungguh di luar dugaan, Tajmahal berdiri dekat dengan kami. Sangat dekat. Meski dinding marmer putihnya masih dipeluk kabut, tetapi keindahannya membuat kami menahan napas. Cuaca dingin tidak lagi terasa begitu bangunan dengan proporsi sempurna itu tampak di hadapan. Ternyata hanya dengan berjalan 200 meter saja gerbang Tajmahal telah di depan mata.
Pengunjung dari seluruh dunia berduyun-duyun. Wajah-wajah memancarkan rasa keingintahuan yang besar pada Taj, sang legenda cinta. Kewujudannya adalah obsesi bagi Shah Jahan yang hidup pada era tahun 1592-1666 Masehi, meski dengan mengorbankan kerajaannya yang besar dan gemilang. Shah Jahan dikenal sebagai raja yang royal membangun bangunan megah, meski dengan menghabiskan harta negara. Dan, Tajmahal-lah puncaknya. Ia bukanlah istana kebesaran, tetapi pusara. Tempat sang kekasih Mumtaz dibaringkan melalui keabadian media arsitektur.
Taj sang arsitek
Seorang lelaki Rajasthani menjadi pemandu kami. Kumis tebalnya yang tampak sangar hilang begitu saja seketika ia menggambarkan keindahan Tajmahal. Selama 14 tahun Tajmahal dibangun dengan penuh energi dari sang raja.
Nama arsitek tidak pernah ada disebut dalam sejarah, para perajin berusaha menerjemahkan keinginan sang raja, sehingga dapat dikatakan dia sendirilah arsitek bangunan ini. Pada tahun 1644 Masehi bangunan Tajmahal sempurna berdiri. Terbuat dari marmer putih dari Gurun Rajasthan, berbagai ornamen ukiran meliputi seluruh dindingnya dengan bebatuan mulia di sekelilingnya.
Tajmahal dibangun oleh kebesaran cinta, kata pemandu kami. Itulah sebabnya ia selalu memancarkan keindahan yang berbeda-beda setiap saatnya. Pagi hari ia akan tampak kekuningan oleh matahari pagi dan semakin siang ia semakin putih. Marmer putihnya memancar pada cahaya yang sempurna. Dan malam hari, terutama purnama, bayang-bayang hitam Tajmahal dari Sungai Yamuna akan tampak seolah ia adalah bangunan kembar Tajmahal putih dan Tajmahal hitam di permukaan Yamuna.
Melangkah di atas lantai Tajmahal, ornamen mawar di seluruh dindingnya mulai tampak bersinar. Batu-batu mulia yang terselip di antaranya menjadikan dinding Tajmahal penuh warna.
Kutipan ayat-ayat Al Quran terhampar di atas gerbang ruang utama. Pusara Mumtaz mulai tampak dalam kegelapan. Kedudukannya yang simetris dengan bangunan sungguh terdesain sempurna. Di sisinya muncul pusara lain, yang tampak seperti elemen tambahan saja. Ia adalah pusara sang raja sendiri, Shah Jahan. Tidak salah lagi, hanya untuk sang ratulah bangunan indah ini dibangun.
Mumtaz Mahal (1592-1631) atau sebelumnya dikenal sebagai Arjamand Banu adalah istri kesayangan Shah Jahan. Nama Mumtaz Mahal yang berarti The Chosen One of the Palace diberikan kepadanya pada hari pernikahan mereka. Nama ini juga kemudian menjadi abadi dipusaranya sendiri, Tajmahal.
Mumtaz adalah keturunan Persia, menikah dan kemudian dikaruniai 14 orang anak, pada usia perkawinan mereka yang ke-19. Kelahiran anak yang ke-14 inilah yang membawanya ke alam keabadian. Mumtaz meninggal pada usia yang sangat muda, 39 tahun.
Berperahu
Ziarah kali ini terasa begitu bermakna ketika pemandu mengajak kami melalui jalan yang selalu digunakan Shah Jahan semasa tuanya untuk mengunjungi Tajmahal.
Upacara kebesaran melalui gerbang utama tidak selalu digunakan sang raja ketika ia sangat rindu kepada kekasihnya. Dia lebih memilih mendekati Tajmahal dengan berperahu dari istananya di Agra Fort ke Taj melalui Sungai Yamuna.
Apalagi setelah ia dipenjarakan oleh putranya sendiri sehingga tidak lagi dapat mengunjungi Tajmahal. Dia memilih berdiam sehingga meninggalnya (1666 M) di Muthumman Burj, sebuah ruang di puncak Agra Fort yang menghadap langsung ke Tajmahal.
Jika pada masa lalu Shah Jahan berperahu dari Agra Fort ke Tajmahal, kita pun dapat melakukannya. Paling tidak untuk ikut merasakan bagaimana sang pencinta ini bergerak mendekati Tajmahal. Melalui dermaga yang hanya dapat diakses keluarga kerajaan, Shah Jahan memasuki kompleks Tajmahal untuk masuk langsung menuju makam sang permaisuri yang terletak di tengah bangunan utama Taj.
Kini, dengan ongkos 20 rupee saja kita akan diajak menyeberangi sungai ini dan menikmati Tajmahal dari seberang sungai। Jangan lupa, mintalah kepada si pengemudi perahu untuk menyanyikan lagu memuji keindahan Sungai Yamuna dan bangunan Tajmahal ini. Sungguh tidak terlupakan.

Arif B Sholihah Dosen Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Peserta 3rd International Field School on Asian हेरिटेज.

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Oktober 2005.

August 23, 2007 at 4:50 am Leave a comment

Mt. Rinjani, Where the Community Manage the Treks

Other peaks nearby are Mt. Baru, Mt Sangkareang, Mt. Buang, Mt Kondo and Mt Manuk. These mountains separated to each others by wide valleys and deep gullies with steep rock slopes. There is a lake called Segara Anak (2,008 m) on the valley Wes of Mt. Rinjani. The water smells of sulfur with temperature varies from place to place, from cold to warm and hot. An active volcano (Mt. Baru) is growing in the lake. Gunung Rinjani National Park lies within a major bio-geographical transition zone (Wallcaeae), where the flora and fauna of South East Asia meets that of Australasia. The National Park, one of over 40 throughout Indonesia, was established in 1997. For the people of Lombok, Sasak and Balinese alike, Mt. Rinjani is revered as a sacred place and abode of deities. The crater lake is a pilgrimage destination for tens of thousand each year. Pilgrims place offering in the water and bathe away ailments in the hot springs…READ MORE

August 15, 2007 at 3:07 pm Leave a comment

Senggigi Beach-Lombok’s oldest and most famous resort area

Senggigi is Lombok’s oldest and most famous resort area.
A perfect place to relax, Senggigi boasts a series of white sandy beaches and safe swimming areas. The point at central Senggigi has good waves for surfers. This place has a colourful reef which provides shelter to a variety of marine life and exquisitely shapped coral and makes it a perfect place to snorkle…READ MORE

August 15, 2007 at 3:06 pm Leave a comment

Older Posts


Feeds

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.